Wednesday, July 9, 2014

Memasang Cargonet SGA di Suzuki Ertiga (Do It Yourself by Own Risk)


Sebenarnya sudah banyak yang memposting bagaimana cara memasang Cargonet SGA di Suzuki Ertiga. Baik itu dengan cara melubangi interior atau dengan cara non permanen (tanpa melubangi) interior trim Ertiga. Akan tetapi kali ini saya juga ingin memposting cara memasang Cargonet SGA di Suzuki Ertiga dengan cara melubangi Interior Ertiga (Permanen).

Cargonet ini sebenarnya adalah alat yang berguna untuk menahan barang di bagasi agar tidak jatuh sewaktu pintu bagasi dibuka, karena dalam keadaan standarnya Suzuki Ertiga tidak dilengkapi dengan Cargonet. Jadi memang Cargonet merupakan aksesoris tambahan pada Suzuki Ertiga. Di bengkel reszmi Suzuki, komponen ini dijual seharga 185rb. Saya berpikir pasti ada yang menjual lebih murah dari bengkel resmi di Internet. Mulailah saya mencari komponen ini secara online. Saya dalam mencari Cargonet ini membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu mencari di Google   yang lebih murah, dan memang kesabaran saya akhirnya terbayarkan. Saya akhirnya mendapatkan Cargonet dari seller di Internet seharga 115rb. Lumayan murah dari harga resminya. Pada awalnya saya sedikit ragu, karena melihat iklan dan cara pembayarannya langsung ke rekening seller. Telah banyak penipuan dilakukan di dunia maya. Dengan membaca Bismillah, saya melakukan pembayaran dengan seller tersebut. Ternyata keesokan harinya barang sudah dikirim dan lusa barangpun sampai di rumah saya. Alhamdulillah. Jadi untuk mendapatkan harga murah memang diperlukan kesabaran hehehe.

Dalam pemasangan Cargonet ini memang diperlukan ketelitian, ini karena salah sedikit bisa membuat interior Ertiga anda berlobang. Mari kita mulai cara pemasangan Cargonet ini.

Selain Cargonet diperlukan beberapa peralatan tambahan dalam pemasangan diantaranya adalah:
a.       MesinBor
b.      Mata bor diameter 8 mm
c.       Obeng + (plus)
d.      Cutter/ gunting

Adapun langkah kerja pemasangan Cargonet adalah:
1.       Memeriksa kelengkapan Paket Cargonet.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa kelengkapan paket Cargonet  SGA. Didalam paket terdapat beberapa komponen kecil pendukung yang harus lengkap, karena kalau kurang akan susah mencari persamaan komponen tersebut. Didalam paket Cargonet terdiri dari:
  • Cargonet (1 buah)

Cargonet

  • Lembar petunjuk pemasangan (1 Lembar)

Petunjuk pemasangan

  • Lembar gambar lokasi pengeboran (1 lembar)
Mal lokasi pengeboran
  • Part 1 (4 buah)
Hook
Foto
  • Part 2 (4 buah)
Well nuts
  • Baut/ Screw (4 buah)
Screw

2.       Menggunting gambar denah pengeboran
Setelah memeriksa paket Cargonet, pengerjaan kita lanjutkan dengan pengguntingan mal lokasi pengoran yang telah disediakan didalam paket Cargonet. Proses ini bisa dilakukan dengan gunting atau cutter.

Denah pengeboran


3.       Memasang Mal ke trim dan penandaan lokasi pengeboran
Sebelum dibor kita harus tahu dahulu  lokasi pengoboran, unutk itu dengan menggunakan kertas yang telah kita potong tadi kita bisa mengetahui lokasi pengoboran pada interior Trim. Penggunaan kertas ini bisa digunakan untuk kedua sisi trim kiri dan kanan. Posisi kiri adalah posisi depan kertas. Pada kertas mal tadi sudah dijelaskan posisi pemasangannya. Yang mana kearah depan. Untuk pada bagian kanan kita bisa balik kertasnya, kemudian tempel lagi dan kemudian tandai lokasi pengeboran trim pada bagian kiri dan kanan mobil.
Mal lokasi pengeboran dapat dipergunakan pada kedua sisinya

4.       Pengeboran trim
Pada proses ini ketelitian dan kesabaran sangat dibutuhkan, karena kalau pekerjaan dilakukan dengan cara kasar maka akan merusak komponen yang lain. Pada mata bor saya beri penanda supaya nantinya pada saat pengeboran tidak merusak komponen lain, karena membor terlalu dalam. Karena tebal trim tidak terlalu tebal. Bedasarkan manualnya kita diminta untuk menandai sekitar 7 mm dari ujung mata bor. Intinya kita akan mengebor sampai trim tembus untuk memasang komponen diatas.

Mata bor yang sudah ditandai

Ketika akan dilubangi

Interior Trim tang selesai dilobangi (Kiri & kanan)

Pada proses ini saya lakukan dua kali. Pertama saya menggunakan mata bor yang lebih kecil dan kemudian baru dib or lagi dengan menggunakan mata bor yang lebih besar. Ini saya lakukan untuk mencegah kerusakan pada permukaan trim. Biasanya apabila pengeboran langsung digunakan diameter yang besar dan mata bornya kurang tajam maka bor akan lari dari permukaan yang seharusnya kita bor.
Proses pengeboran dengan menggunakan mata bor 8 mm cukup dilakukan sekali dan kemudian langsung dicocok dengan well nut. Jika well nut tidak bisa masuk maka lakukan pembesaran lobang dengan hati-hati. Biasanya setelah dilobangi dengan menggunakan mata bor 8 mm well nuts bisa masuk dengan sempurna.
Terkahir jangan lupa membersihkan kotoran yang ditinggalkan akibat pekerjaan pengeboran.

5.       Pemasangan Well nuts
Komponen ini yang bertugas agar menahan Cargonet tetap di trim. Cara pemasangan cukup dengan mesukkan well nuts kedalam lobang yang telah kita buat tadi.

Pemasangan Well nuts pada trim

6.       Pemasangan Hook dan Screw
Untuk pemasangan hook akan juga dilakukan pemasangan screw karena hook ditahan oleh screw. Screw akan menyatukan ketiga komponen tadi. Well nuts, hook dan screw pada trim.
Pemasangan screw & Hook

7.       Pemasangan Cargonet.
Untuk pekerjaan ini sangatlah mudah karena kita hanya perlu memasangkan Cargonet pada Hook yang telah kita pasang tadi.

Cargonet terpasang
Tulisan Suzuki di Cargonet

Bonus foto berikut Model….
Ami dan Azra


Dan selesailah pemasangan Cargonet di Suzuki Ertiga. Semoga tulisan ini berguna bagi pembaca hendaknya.




Monday, April 21, 2014

One Day Trip to Kota by Train (with Commuter line)

April…. Pada bulan ini terdapat long week end. Tanggal 17-20 April. Biasanya sih kami jalan jalan keluar kota (bohong ding hehehe). Saya ingin mengajak Ami (anak bungsu saya) jalan-jalan naik kereta api. Untuk kali ini dicoba jarak dekat dahulu alias Kereta Listrik (KRL) yang sekarang disebut Commuter Line. Soalnya sejak lahir Ami belum pernah diajak jalan-jalan naik kereta dan saya ingin Ami mencoba dan biasa naik angkutan massal ini.
Saat ini saya dengar kalau naik kereta api lebih nyaman dan enak. Sekarang. Semua gerbongnya sudah dilengkapi dengan pendingin udara termasuk yang kelas ekonomi. Baik itu gerbong Kereta Listrik (KRL) dan Kereta Diesel (KRD). Jarak dekat dan jarak jauh. Tidak ada lagi berpanas-panas lagi didalam kereta seperti jaman dahulu.
Untuk liburan kali ini saya akan akan mengajak Ami dan Kakak ke  kota dengan menggunakan kereta. Pada kamis malam saya mulai mencari di internet mengenai informasi tentang kereta komuter. Dari internet saya ketahui bahwa terjadi perubahan trayek kereta api. Biasanya kereta dari bekasi akan melewati pasar senen dan lanjut ke stasiun kota. Sekarang rute kereta dari bekasi akan melewati stasiun Manggarai dan terus ke stasuin kota. Juga untuk rute-rute yang lain terjadi juga perubahan.
Peta Rute Commuter (KRL) Jabodetabek
Sedangkan untuk waktu keberangkatan bisa juga diketahui dari web ini http://www.krl.co.id/. Pada web ini bisa diketahui ongkos, jam keberangkatan dari kereta commuter dari semua jurusan kereta KRL. Sekarang ini tidak ada lagi kereta eksekutif lagi seperti dahulu. Semua kereta Commuter akan berhenti setiap stasiun dan pendingin udara merupakan perlengkapan standar.  Memang sudah jadi perbaikan yang signifikan dari pihak KA akan pelayanan informasi tentang KRL Commuter dan saya berharap saya juga terjadi peningkatan standar  pelayanan dari KA nantinya.
Sabtu pagi tanggal 19 April jam 04.30 saya sudah membangunkan bunda untuk bersiap-siap. Bunda langsung mempersiapkan segala sesuatunya di dapur dan saya langsung lanjut tidur lagi (hehehe). Sekitar jam 5 saya pun bangun mulai siap-siap.
Tepat jam 6 pagi kami berangkat dengan mengendarai motor ke stasiun kereta terdekat dengan rumah kami yaitu stasiun Kranji. Kami menggunakan motor ke stasiun sehingga kami bisa menghemat biaya transportasi pulang pergi. Jadi kami tidak perlu lagi menggunakan angkot atau taksi, dikarenakan tema dari trip kali ini adalah perjalanan murah meriah.
Sesampainya di stasiun Kranji saya sedikit terkejut dengan perubahan total yang saya lihat disana. Stasiun ini terlihat beberbeda 180 derajat dengan yang saya lihat dahulu. Lebih bersih dan lebih teratur. Tidak ada lagi para pedagang didalam area stasiun. Area parkir kendaraan yang luas  tersedia disini. Para pedagang tidak lagi bebas mejajakan dagangannya disembarang tempat hanya diarea luar stasiunlah(depan jalan utama) diperbolehkan berjualan. Sepertinya stasiun ini memang dikhususkan untuk para pekerja yang bekerja di Jakarta jadi tidak perlu lagi membawa kendaraan ke Jakarta. Sayang sekali saya lupa mengabadikan stasiun ini dengan kamera saya.
Bunda langsung membeli tiket ke ticket both dan membeli tiket one trip. Seharga Rp. 8500 untuk satu orang anak-anak dibawah 3 tahun gratis. Jadi kami hanya perlu membeli 3 tiket. Setelah membeli tiket kami langsung bergegas ke pintu otomatis. Kartu yang diberikan tadi mesti ditempelkan ke sensor dan kalau lampu telah berwarna hijau kita baru boleh masuk. Kamipun menunggu di peron yang arah Jakarta. Suasana stasiun sudah dipenuhi oleh para calon penumpang yang akan menuju Jakarta.
Tidak beberapa lama kerata kami pun datang. Bunda berkata “ kalau kita naik di Stasiun Bekasi pasti kita naik kereta berikutnya”. Ami dan Kakak sangat senang sekali, sampai-sampai tiap sebentar melihat kearah kereta. Kami harus lebih awas akan pergerakan anak akmi takut terjadi kecelakaan pada mereka.
Setelah kereta berhenti sempurna dan pintu terbuka kami bergegas masuk kedalam kereta. Didalam kereta sudah dipenuhi oleh penumpang yang telah naik dari stasiun Bekasi, dan beruntungnya ad seorang Bapak yang langsung meberikan Bunda kursinya. Alhamdulillah, terima kasih banget pak. Jujur tindakan yang dilakukan oleh Bapak ini sudah mulai jarang dilakukan oleh orang Indonesia. Seperti yang terjadi baru-baru ini, ada seorang wanita yang mengomel di sosial media dikarenakan diminta kursinya oleh wanita hamil. Akhirnya karena perbuatannya dia di”bully” orang se Indonesia. 
Back to the topic, Ami sangat senang sekali naik kereta sampai-sampai dia ingin berdiri di kursi karena tidak bisa melihat keluar.
Ami sedang melihat pemandangan diluar kereta

Ami dan Azra sedang duduk
Stasiun demi stasiun kami lewati. Hampir satu jam kami diperjalan dan kami pun sampai distasiun kota.
Stasiun Kota
Stasiun Kota
Sesampainya kami distasiun kota kami langsung keluar dari stasiun kota dan tidak lupa kami langsung mengembalikan tiket yang beli di stasiun Kranji tadi dan dikembalikan uang jamin sebanyak Rp.15rb. Jadi sekali perjalanan kami hanya membayar Rp. 3500. Ealah perjalanan yang murah sekali dengan kualitas yang lebih baik dari pada kami naik Bus kota dan juga kami langsung membeli tiket untuk kami pulang nantinya, daripada nanti sudah capek mesti antri lagi.
Kami langsung melanjutkan perjalanan di daerah kota yaitu menuju daerah petak Sembilan untuk mencicipi Kopi Es Tak Kie, dan berkunjung ke Meseum Bank Mandiri, Musium Bank Indonesia, Museum Wayang dan Museum Jakarta. Untuk Perjalanan ini akan dilanjutkan pada cerita pada cerita terpisah. (klik link diatas untuk membaca ceritanya, bagi yang ingin membaca)
Setelah selesai berkelana di daerah kota dan Ami sudah mulai rewel, kami beranjak menuju stasiun kota. Kami akan kembali menggunakan Kereta sebagai moda transportasi kami. Kami masuk dari pintu Utara. Terlihat loket penjualan tiket kereta dan juga beberapa Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan juga loket penjualan tiket Jarak Jauh. Kondisi stasiun Kota saat ini jauh lebih baik dari pada terakhir saya kesini. Tidak ada lagi penjual asongan diperon kereta dan bahkan penjual koranpun tidak saya temui. Sekarang bahkan sudah ada salah satu makanan cepat saji dengan lampang orang tua berjenggot membuka cabang disana dan seperti biasa Kakak minta makan disana. Kami masuk kedalam restoran makanan cepat saji dan ampun antriannya lumayan.
Bunda dan saya punya keinginan untuk melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan kereta api ekonomi. Jadi kami sekeluarga akan pergi dengan menggunakan Kereta api ekonomi tujuan Jawa dan menginap sehari disana dan kembali ke Jakarta dengan menggunakan kereta kembali. Anak-anak pun  sangat senang sekali. Perjalanan ini perlu direncanakan dulu dengan matang karena kami berdua bekerja dan Azra juga mau masuk sekolah dasar.
Bunda beruntung langsung bisa mendapatkan tempat duduk sedangkan saya masih lama mengantri, tapi saya sedikit kurang sreg dengan pelayanan. Petugasnya kurang cekatan dan kurang tanggap. Orang dijanjikan akan diantar makanannya tapi sudah lama menunggu makanan belum diantar, kondisi wastafel yang tersumbat, Meja yang sudah selesai dipakai tidak dibersihkan. Berhubung anak-anak pengen makan disana kami pun makan disana. Hal yang tidak pernah saya temui di cabang lain dengan merek yang sama.
Setelah makan kami langsung bergegas menuju peron dan terlebih dahulu kami harus melewati pintu otomatis lagi seperti distasiun Kranji. Saya bertanya kepada petugas kereta yang menuju Kranji di peron no berapa dikatakan kalau diperon 12 tapi ternyata itu untuk tujuan Bogor, kamipun pindah peron.
Azra, Kakak & Ami sedang menunggu kereta

Peron

Peron
Kereta untuk tujuan bogor bisa dikatakan setiap 30 menit ada sedangkan untuk Bekasi biasanya ada sela dan sudah terjadi penumpang terlebih dahulu barulah kereta datang.
Barulah hampir jam 3 sore kami mulai berangkat menuju Bekasi. Perjalanan menuju bekasi ini sempat tertahan beberapa kali dikarena harus menunggu kereta yang lebih mahal (luar kota) seperti di stasiun Juanda, Cikini, Manggarai dan terakhir di Stasiun klender Baru. Distasiun Manggarailah kereta paling lama berhenti. Perjalanan kami ini dihiasi oleh hujan yang sangat deras dan airpun masuk kedalam gerbong saat pintu kereta dibuka.
Saya menjadi orang paling mederita pada saat pulang, karena Bunda, Kakak dan Ami semua duduk dan mereka tertidur lelap. Sedangkan saya harus berdiri hiks….hiks….. karana tidak dapat tempat duduk. Sekitar 1 jam lebih saya menderita diatas kereta.
Lewat dari Jam 4 kami pun sampai di stasiun Kranji. Setelah mengembalikan tiket dan mengambil uang jaminan kamipun bergerak ke parkiran motor di luar stasiun dan bergerak pulang
Sesampai dirumah setelah mandi dan makan kami semua terlelap tidur dengan sempurna. Perjalanan yang menyenangkan dan melelahkan. Satu hari full jalan kaki capek tapi bahagia....

Kopi Tak Kie di Petak Sembilan

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, pepatah itulah yang ingin kami pakai dalam perjalanan kami ke kawasan Kota Tua Jakarta. Mumpung kami (saya, Bunda, Ami dan kakak) sedang jalan-jalan ke daerah kota tidak salah saya mengajak bunda ke kawasan Petak Sembilan Glodok. Diareanya ini juga menurut cerita banyak dijual makanan dan peralatan ibadah orang Tionghoa, obat-obat tradisional Cina dan bahkan konon ada juga menjual peralatan masak yang lengkap disini. Kemudian, yang paling menarik buat bunda adalah didaerah Petak Sembilan ini ada juga sebuah kedai kopi yang terkenal yaitu Kedai Kopi Es Tak Kie. Sebagai pencinta kopi bunda pasti tertarik mengunjungi kedai ini, sedangkan saya hanya ingin tahu saja area ini. Soalnya sudah bertahun-tahun datang ke Glodok tapi tidak tahu dimana itu Petak Sembilan.
Sebenarnya saya tidak tahu posisi pastinya dimana letak Petak Sembilan ini. Tapi dari internet saya dapatkan bahwa lokasinya berada didekat glodok. Ada beberapa informasi yang saya dapatkan bahwa lokasinya dekat dengan Jl. Kemenangan 3 dan beberapa Informasi lain. Jujur saya masih bingung. Biarlah kita langsung On The Spot saja kalau kita tersesat kita pergunakan GPS alias Gunakan Peduduk Sekitar hehehe.
Perjalanan ke Petak Sembilan ini masih dalam gabungan jalan-jalan seharian kami ke Kota Tua Jakarta dengan menggunakan Kereta Listrik (Commuter).Silahkan baca One Day Trip to Kota by Train (Commuter)
Kami sampai di stasiun Kota sekiatar jam 8 pagi, dan kami langsung berjalan menyeberangi Jl. Jembatan Batu, Kota dan terus kami berempatan menyusuri Jl. Pintu Besar Selatan kearah Glodok. Ami dan Kakak sangat senang sekali diajak jalan-jalan. Riang gembira mereka menyusuri jalan dipinggir jalan besar tersebut.
Rute Perjalan kami  dengan jalan kamai
Tepat sebelum jembatan penghubung Glodok Plaza kami menyeberang Jl. Pintu Besar Selatan menuju gedung Glodok Plaza dimana menjual peralatan kesehatan. Pas dibelakang Gedung itu saya langsung kedalam sebuah jalan kecil (pada gambar diatas dinomor 2), karena saya pernah melihat di Internet kalau Petak Sembilan itu. Kalau digogle map namanya Jl. Pancoran. Ternyata dugaan saya salah besar makin lama kami masuk kedalam pemukiman warga. Saya tidak yakin itu Petak Sembilan yang dimaksud. Dibawah Glodok Plaza ternyata ada pasar basah yang menjual keperluan sehari-hari warga. Pada titik 3 pada gambar kami berbalik arah lagi menuju jalan  ke titik nomor 2.
Didalam jalan sebelum kami keluar ke mulut jalan saya juga melihat ada sebuah gang yang menjual daging entah apa itu tapi dugaan saya itu daging babi. Ada juga yang menjual daging semacam ayam tapi sepertinya itu bukan ayam (saya baru pertama kali melihat orang menjual daging seperti itu).
Karena merasa tersesat kami keluar lagi dari jalan tersebut menuju pintu jalan kami masuk pertama tadi. Akhirnya kami mengunakan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar untuk menemukannya. Kami bertanya ke penjual minuman disekitar mulut jalan. Kami diarahkan ke gang berikutnya yaitu Jl. Kemenangan 10.
Setelah membayar minuman kami masuk ke Jl. Kemenangan 10. Didepan ada yang menjual kasur dan perlengkapannya. Kemudian ada juga yang menjual peralatan ibadah tionghoa, Sayur mayur serta makanan sarapan pagi. Makin jauh kami kedalam makin tidak yakin kalau itu daerah yang kami cari. Kami terus masuk kedalam pasar yang sepertinya juga menjual daging babi dan lainnya.
Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti disebuah vihara yang berada dibagian dalam Jl. Kemenangan 10 (Pada Gambar titik 5). Kami bertanya ke seorang petugas keamanan disana tapi beliau memberikan informasi yang kurang jelas kepada kami. Saya mencari informasi di internet tentang kedai kopi ini ternyata kalau lokasinya berada di gang Gloria.
Bunda akhirnya memutuskan untuk menyusuri Jl. Kemenangan 3. Sampai kembali memakai GPS tradisional. Orang disana memberikan kami harus kembali jalan Pancoran. Aduh kok bisa seperti ini. Kaki Bunda dan saya sudah kelelahan, akan tetapi kedua anak kami masih semangat melanjutkan perjalanan
Ami dan kakak masih terlihat senang diajak berjalan keliling Glodok. Belum terlihat wajah lelah diantara mereka. Kami terus menyusuri Jl. Kemenangan 3 dan lanjut ke Jl Petak Sembilan dan akhirnya kami bertumu kembali jalan Pancoran. Dipertokoan Jl. Pancoran ini banyak dijual makanan kecil impor. Ada coklat impor, permen impor dan lainnya. Ada juga toko yang menjual obat tradisional Cina. Paling kurang saya mengetahui kalau ingin membeli ramuan tradisional cina belinya dimana.
Sampai kami menemukan sebuah gang yang berada disebelah kanan kami dan saya berpikir pasti ini tempatnya (pada gambar nomor 7). Kami langsung menyusuri gang tersebut kedalam. Kami banyak melihat dijual buah-buahan, kue-kue dan makanan tradisional Cina. Sepertinya daerah khusus menjual makan dan buah saja. Kami tidak mencoba satupun makanan disana karena kami masih meragukan kehalalannya. Sampai ujung gang tidak ditemukan juga kedai kopi Es Tak Kie.
Hampir putus asa mencari gang Gloria di kawasan petak Sembilan. Kami kembali memutar arah keluardari gang tersebut dan Bunda bertanya kepada orang sekitar ternyata gang Gloria itu berada diseberang jalan gang yang kami masuki (pada gambar nomor 8). Kami pun menuju gang yang tunjuk.
Didalam gang tersebut banyak yang dijual makanan Cina, sperti nasi hainam, dan lainnya yang saya tidak tahu namanya. Ada juga dijual kue-kuekecil dan akhirnya kami menemukan lokasi yang kami cari sedari pagi. Dari jalan pancoran lokasi kedai berada padadisbalah kanan.
Kedainya terlihat sederhana dan kesannya jadul sekali. Terlihat foto-foto jaman dahulu yang dipajang didinding kedai. Juga dijual kue kue dan juga makanan kecil berada didepan kasir.
Dapur Kopi Tak Kie
Kasir & makanan kecil

Pesanan kopi yang sudah tersaji

Kopi Es

Kopi Es Susu

Foto-foto jadul yang terdapat didinding kedai

Kakak & Ami sedang menikmati kopi

Ami suka sekali kopi hitam

Dagangan didalam gang Gloria

Papan Nama kedai kopi yang letaknya didalam kedai
Kami memesan 2 gelas Kopi Es dan 1 gelas Kopi Susu Es dan tidak memesan makanan sama sekali karena kami takut akan kehalalan makanan yang dijual disanan. Tapi kami cukup cuek dengan kopi yang disajikan mudah-mudahan tidak ada kandungan babinya.
Tidak lama berselang pesanan kami datang, saya dan Bunda minum Kopi Es, sedangkan Kopi Es Susu diberikan kepada Kakak. Memang rasa kopi esnya memang nikmat dan yang paling nikmat ternyata Kopi Susu Es. Bagi saya kopinya lumayan karena saya bukan pencinta kopi, tapi bagi bunda kopinya nikmat.
Bunda ternyata ingin buru-buru ingin menyelesaikkan acara coffe time karena Bunda tidak suka mencium bau hio yang dibakar. Padahal saya masih ingin bersantai didalam kedai yang berksanjadoel dan kental etnis Cina, karena  setelah berjalan jauh mencari kesana-kemari.
Untuk 2 gelas Kopi Es dan 1 gelas Kopi Es Susu kami harus membayar Rp. 37rb. Tidak terlalu mahal untuk rasa yang kami dapatkan.
Setelah selesai membayar kamipun melanjutkan perjalan, kami yang akan menuju meseum Bank Mandiri. Melewati jalur biru menuju jalur biru menuju titik nomor 9 yaitu museum Bank Mandiri. satu tujuan utama kami ke Kawasan Kota telah tercapai.
Selama perjalanan kami memutarmutar di daerah Petak Sembilan kami bisa memetakan lokasi pedagang disana. Dimana pasar basah, tempat menjual kue, tempat untuk menjual peralatan ibadah orang Cina,  tempat menjual ramuan tradisional cinal, tempat menjual makanan Cina, tempat menjual peralatan kesehatan. Satu yang paling penting yang saya lihat disana walaupun dikawasan pecinaan tapi tetap ada yang menjual nasi Padang hahaha.

Peringan hari Kartini 2014 Azra

Bulan April…… Wuih Bulan yang biasa membuat kami berdua pusing. Soalnya pada bulan ini ada acara memperingati hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April dan biasanya Kakak (Azra) pasti minta dianter dan dijemput ke sekolah oleh salah satu dari kami orangtuanya (soalnya iri temennya dijemput sih). Pada tahun kemarin si mbak Azra dan Ami masih ada jadi Azra masih bisa dibujuk kalau yang nanti yang mengantar dan menjemputnya nanti pas Kartini-an itu Mbaknya. Masalahnya si Mbak sudah pulang kampung dan tidak pernah kembali lagi (nasib orang tua yang bekerja).
Padahal kami baru saja mengadakan liburan tambahan sewaktu kami kembali dari liburan dari Palembang, masa sekarang ditambah lagi dengan liburan tambahan lagi. Sedangkan cuti dari kantor sudah habis. Sebelumnya sudah ditetapkan kalau uncu Azra lah yang akan mengantarkan  Azra ke Acara tersebut, tapi dikarenakan uncu mendapat panggilan interview tepaksa kami memikir ulang siapa yang akan mendapat jatah libur nantinya.
Setelah berdiskusi dengan alot dan matang dan diselingi argumen dan interupsi setiap saat (seperti yang terjadi di gedung DPR hehehe), maka ditetapkan kalau saya yang akan mengantar dan menjemput Azra nantinya.
Acara memperingati hari Kartini di sekolah Azra kali ini dilakukan pada tanggal 17 April. Jadi lebih dahulu dari hari kejadian. Tapi lebih baik bagi kami, soalnya salon yang biasa tempat peminjaman baju Azra masih sepi order dan Azra masih bisa memilih baju yang sesuai dengan keinginannya.
Kali ini Azra memilih baju adat Minangkabau sesuai dengan daerah kelahirannya. Bunda sudah memberikan alternatif untuk memakai baju adat Sulawesi atau yang lain, tapi Azra tak bergeming. Untuk baju ini pernah juga dipakai oleh Azra pada tahun sebelumnya, tapi demi anak biarlah dia memilih sesuai dengan keinginannya kata bunda. Soalnya  kalau dipaksakan menggunakan baju adat daerah yang bukan keinginan dia, kakak suka ngambek kalau didandan. Tempat penyewaan dan salon ini berada tepat didepan rumah kami. Jadi sewaktu dandan nantinya Azra tinggal datang kerumah tersebut dan tidak perlu dianter oleh saya.
Pada tanggal  17 April pagi hari, setelah Azra mandi dan sarapan pagi. Kakak diantar bunda ke depan rumah dan kemudian didandani. Setelah kurang lebih 45 menit, Azra telah selesai dipakaikan baju Adat Minangkabau dan juga didandani tentunya. Pesis sama seperti tahun sebelumnya (hahahaha).

Azra setelah didandani

Azra dan Ami Bergaya
Ternyata hari ini bunda juga datang telat kekantor (aduh kalau gini mending bunda aja yang mengantar Azra). Akhirnya, kami sekeluarga pergi mengantarkan kakak ke sekolah (Ayah, Bunda, Kakak dan Ami) dengan menggunakan sepeda motor kesayangan kami sekeluarga “Chelsea”, yang mana telah berjasa membawa kami kemana-mana sewaktu kami belum memiliki “Neng Erti”.
Jam 7.30 kami sekeluarga berangkat dari rumah menuju sekolah kakak. Sepeluh menit berselang kamipun sampai disekolah kakak. Kakak kemudian diantar bunda kedalam sekolah dan bunda tidak lupa mengambil gambar Azra dan Ami di sekolah

Azra didalam kelas

Kakak & Ami disekolah Kakak

Kesibukan Ibu-Ibu disekolahan

Kue yang saya pikir dibagi buat anak-anak ternyata dijual
Untuk karnaval sekolah kakak kali ini, para murid akan diajak berkeliling komplek disekitar sekolah dengan menggunakan odong-odong. Jadi dengan demikian para murid tidak akan kelelahan dalam berpawai, seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Pagi itu beberapa odong-odong sudah terlihat “stand by” didepan sekolah Azra. Untuk penggunaan odong-odong ini, akan dilakukan secara bergantian dan ini telah diatur oleh pihak sekolah.
Sepertinya acara ini terlihat disponsori oleh salah satu produsen roti dan terlihat karyawan produsen roti sibuk memasukkan roti kedalam area sekolah.
Pada acara ini ada juga desediakan foto both sehingga bagi orang tua yang ingin bisa mendaftarkan anaknya untuk difoto dengan menggunakan baju daerah dan tentu saja ada biaya tambahan (sekitarRp.60rb termasuk cetak).
Tidak berapa lama kakak kami tingal disekolah dan sekarang saya akan mengantar bunda ke Tol Jatibening. Sekarang hanya saya, bunda dan Ami yang ada dimotor.
Selesai mengantarkan Azra dan bunda. Saya dan Ami lanjut pulang dan akan kembali menjemput kakak jam 11 nantinya.
Jam didinding rumah  hampir menunjukkan jam 10.30, dimana saya harus bersiap menjemput Azra kesekolah. Ami tidak saya bawa karena dia masih terlelap tidur dan saya tidak tega untuk membangunkannya.
Sesampai saya disekolah ternyata Azra masih didalam kelas, dikarenakan masih ada pembagian piala. O iya, seperti tahun tahun sebelumnya pada peringatan hari Kartini biasanya dibagikan piala. Jadi seolah-olah mereka menang lomba tapi ini semua murid mendapatkan piala.
Selesai pembagian piala, kakak langsung keluar kelas untuk melihat saya sudah datang atau belum. Untuk tahun ini  saya tidak menemani dia sewaktu parade soalnya pakai odong-odong jadi males nemeninnya. Setelah kakak selesai memakai sepatu kamipun pulang kerumah.
Foto sesampai dirumah

Selesai juga acara kakak tahun ini. Tahun depan mudah-mudah tidak ada lagi acara seperti ini disekolah SD nya nanti. Berharaplah…….

Thursday, April 10, 2014

Perjalanan Liburan Jakarta - Palembang

Sudah Tiga bulan sejak perjalanan kami ke Jogya berlalu. Keinginan saya untuk mengajak keluarga liburan ketempat yang belum pernah dikunjungi semakin semakin tinggi. Mau diajak kemana yah Bunda, Azra & Ami kali ini. Kebetulan Opa (kakek Azra & Ami) mau melakukan perjalan ke Palembang. Saya melemparkan ide ke Bunda, kenapa  tidak kita aja yang mengantar Opa Gani ke palembang, sekalian liburan lumayan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Bunda langsung setuju dan tinggal dicarilah waktu yang enak buat kami liburan ke sumatera. Perjalan ini kami anggap sebagai pemanasan sebelum lebaran tiba. Kami bedua mulai membolak balik kalender 2014. Jadwal perjalanan disesuaikan dengan kesibukan kami dikantor.
Dari pencarian kami didapatlah tanggal baik keberangkatan kami itu pada tanggal 28 Maret 2014 dan kami akan kembali ke Jakarta dari Palembang pada hari Selasa tanggal 1 April 2014. Dikarenakan hari Senin merupakan hari libur nasional maka kami sedikit memperpanjang liburan kami di Palembang. Kami ingin menikmati liburan ini dengan santai dan ingin mencicipi kuliner khas Palembang.
Mulailah kami hunting tempat-tempat yang nantinya kami kunjungi (biasanya sih gagal hehehehe). Walaupun biasanya kami bisa mewujudkan itinerari yang telah kami buat tapi kami biasanya selalu membuat jadwal perjalanan kami. Mulai dari Pulau Kamaro, Benteng Kuto Besak dll. Juga kami memutuskan jalur mana yang akan kami pakai nantinya dalam perjalanan ke Palembang. Saya dan bunda memutuskan untuk mencoba Jalur baru yang belum pernah kami coba sebelumnya yaitu Jalur Lintas Pantai Timur Sumatra. Saya membaca dari beberapa blog bahwa Jalur ini kondisi jalannya lumayan bagus.

Jalur darat yang akan kami tempuh
Jarak tempuh Jakarta – Palembang lewat jalur Lintas Pantai Timur Sumatra ada sekitar 619km (termasuk menyeberang dengan ferry). Kalau berdasarkan Gogle map dibutuhkan sekitar 9 jam 39 menit perjalanan darat. Pertanyaan saya. Apakah pada kenyataannya waktunya sama kalau ini dijalani langsung?
Pada perjalanan kali ini kami sekeluarga juga akan mengajak ibu saya (yang biasa dipanggil Azra & Ami nenek), Umi & Tama (panggilan adik saya) & Opa. Jadi total semua dalam satu kendaraan ada 5 orang dewasa dan 3 orang anak-anak. Waw inilah perjalanan teramai kami. Biasanya kami melakukan perjalanan jauh maksimal 4 orang dewasa dan 2 orang anak kecil. Tapi biarlah sesekali ramai tidak apa-apa.
Segala sesuatu kami persiapkan dengan baik mulai dari dana, kendaraan dll. Bunda kebagian mempersiapkan menu salama kami diperjalanan. Diperjalanan ini rencanannya kami tidak akan makan di restoran tapi kami akan membawa semua makanan dari rumah. Kerena lebih terjamin kebersihannya dan juga lebih murah (hehehe). Kali ini menu yang akan kami bawa adalah dendeng. Sedangkan untuk makanan kecil untuk para krucil dipercayakan kepada nenek.
Mendekati Hari H ada sedikit musibah yang menimpa kami. Kedua anak kami menderita sakit. Azra demam tinggi dan Ami demam dan batuk. Perjalan ini sempat terancam batal, tetapi setelah diberi obat oleh dokter anak. Kedua anak kami mulai berangsur sembuh. Jadi kami putuskan kalau kami jadi melakukan perjalanan ini.
Pada tanggal 28 Maret 2014, setelah semua persiapan dilakukan kami tetap masuk kekantor. Kami berangkat malam soalnya. Sorenya Jakarta hujan deras dan kondisi lalu lintas sangat macet karena semua orang ini cepat pulang karena long week end. Jarak dari kantor bunda ke kentor saya tidak lebih dari 10 km. Tapi untuk menempuh jarak itu pada saat orang akan long week end bisa menghabiskan waktu 2 jam. Yup benar, 2 jam yang dibutuhkan bunda menempuh jarah Cikini ke Pemuda pada saat akan long week end. Padahal saya sudah berangan-angan untuk tidur cepat karena besok akan melakukan perjalanan jauh.
Baru sekitar jam 7 malam saya bertemu dengan Bunda di dekat toko pakaian muslim Rabbani dimana kami biasa bertemu. Sekitar jam 8 malam kami sampai dirumah, itupun harus mutar sana-sini karena terjadi banjir dibeberapa titik. Saya langsung tidur sedangkan bunda mulai packing karena kemaren-kemaren masih ragu akan jalan atau tidak. Rancananya saya akan bangun jam 23.00 akan tetapi karena kecapean saya terbagun jam 00.00. Mulailah kami menyusun semua barang yang akan kami bawa kedalam mobil. Saya membuat peraturan berhubung mobil kami kecil, semua penumpang dilarang membawa banyak barang bawaan (hehehe). Abi (suami adik saya) nanti juga akan nebeng sampai ke cilegon ke tempat orang tuanya selama istrinya ikut dengan saya. Jadi nantinya kondisi mobil saya akan penuh di isi oleh 6 orang dewasa dan 3 anak kecil.Waw rekor lagi bagi neng erti.
Perlengkapan yang akan dibawa (sebagian kecil)
Sekitar jam 01.00 kami meninggalkan rumah untuk memulai perjalanan ke pulau Sumatera, tapi sebelum masuk kedalam pintu tol Jatibening saya mengisi bensin dahulu. Bensin diisi penuh sampai “muntah”, karena saya ingin membandingkan konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan untuk menuju Palembang. Perlu diketahui bahwa dalam membawa mobil saya tidak concern dengan cara bawa mobil. Saya membawa mobil berdasarkan keinginan saya. Jadi bisa dikatakan tidak merujuk kepada cara mengemudi yang benar. Bisa jadi cara bawa mobil saya sangat boros. Jadi saat mengisi bensin ini saya anggap titik nol. Jadi nanti saya akan mengisi penuh lagi bensin saat akan pulang nantinya, sehingga bisa didapat konsumsi bahan bakar l/kmnya.
Setelah mengisi bensin, saya menyempatkan mengisi kartu e-toll yang saya miliki sebanyak 2 buah dengan nominal Rp.50rb. setelah melakukan top up kartu e-toll kami langsung berangkat meninggalkan Jakarta (eh salah Bekasi deng). Memasuki Jakarta kondisi lalu lintas tol masih ramai terutama truk karena truk sudah boleh melewati tol dalam kota pada jam-jam itu. Kondisi masih dalam keadaan ramai lancar. Akan tetapi mendekati pintu tol karang tengah kecepatan kendaraan makin lambat dan cenderung berhenti. Saya berpikir ini pasti karena pintu tol yang membuat lalu lintas macet. Setelah melewati pintu tol kecepatan kendaraan tidak bertambah, ternyata ini diakibatkan oleh adanya perbaikan jalan oleh pihak operator jalan tol. Saya heran ini jalan tol kok tidak pernah selesai-selesai ya perbaikannya.
Kemacetan Jalan tol Merak


Perjalanan kami sedikit tersendat. Saya membuat jadwal sekitar jam 3 saya sudah masuk merak. Akan tetapi karena kemacetan saya baru masuk kedalam pelabuhan jam 4.30 dan terlebih dahulu kami mengantarkan Abi kerumah dahulu. Jadi kami tidak keluar ke Pintu tol Merak, kami keluar di Pintu tol Cilegon Barat.
Dari rumah Abi kami melanjutkan perjalanan dengan menempuh jalur jalan non tol menuju Merak. Sewaktu akan masuk Merak, saya salah masuk pintu gerbang. Saya masuk ke pintu gerbang parkir untuk terminal bus Merak. Aduh… Saya keluar lagi dan tetap saya harus bayar Rp. 6rb untuk waktu tidak sampai 5 menit. Lebih mahal dari parkir di mall-mall di Jakarta. Sepertinya saya tidak memperhatikan rambu penunjuk jalan. Ternyata jalan masuknya berada dijalan sebelah yang saya masuki tadi. Pada gerbang masuk pelabuhan kami diharuskan membayar Rp, 275rb (sudah termasuk penumpang).
Setelah melakukan pembayaran saya langsung menginjak gas dengan harapan cepat masuk bus. Ternyata ada antrian mobil yang cukup panjang. Saya langsung mengikuti antrian ini. seingat saya dermaga di Pelabuhan Merak ini cukup banyak tapi kenapa orang mengantri di satu dermaga saja. Ternyata memang ada banyak dermaga di pelabuhan Merak ini tapi rambu petunjuklah yang kurang di pelabuhan ini. sehingga banyak orang yang mengantri di satu dermaga saja padahal masih bnayak dermaga yang lain. Setelah ada salah seorang petugas datang memberitahu barulah antrian ini pecah dan berkurang. Kami langsung menuju dermaga 3 dengan harapan bisa parkir di lantai atas sehingga bisa melihat pemandangan laut dengan leluasa buat Azra dan Ami.

Antri masuk kapal

 Erti Neng Sedang Mejeng mau masuk kapal

Kami masih harus menunggu kapal merapat terlebih dahulu dan juga harus menunggu bongkar muat kendaraan di kapal. Mulai jam 6an kapal mulai dimasuki kendaraan niaga dan pribadi. Kami memang beruntuk kami tidak perlu menunggu untuk kapal berikutnya. Tepat jam 7.20 kapal mulai berangkat berlayar menyeberabngi Selat sunda menuju Pulau Sumatra. Ini sudah sangat telat sekali dari jadwal yang telah kami buat sebelumnya jadwal kami adalah Jam 6 itu kami sudah harus tiba di Bakaheuni dan istrirahat sebentar sebelum masuk ke Jalur Lintas Pantai Timur Sumatra. Apa daya kami meleset jauh dari jadwal. Ya sudah jalani saja apa adanya.
Foto mulai berlayar

Mesin Mobil tetap hidup selama kami didalam karena pagi itu matahari sangan terik sekali. Kami juga mulai melakukan sarapan pagi. Untuk sarapan kami ini kemi sarapan dengan mie instan. Kami membawa banyak sekali stok Pop Mie yang akan kami nikmati dalam perjalanan. Untuk itu kami juga mempersiapkan termos air panas yang baru kami beli di dekat rumah Umi.

Sarapan pagi di mobil
Selesai sarapan kami keluar dari kendaraan untuk melihat-lihat pemandangan laut. Dan tidak lupa saya mengambil gambar kedua anak saya dan keluarga.
Antrian mobil yang menunggu kapal

Kapal yang sudah berlayar

Ami dan Azra sedang melihat laut

Kondisi penuhnya kapal

Kapal yang penuh dengan mobil

Sedang sarapan pagi

Sekitar jam 9.30 kami mulai mendarat di bumi Sumatra dan akan memulai perjalanan kami menuju Palembang. Terlebih dahulu saya kembali akan mengisi tangki neng erti sampai penuh, karena takut di jalur Lintas Pantai Timur Sumatra nantinya tidak banyak terdapat SPBU. Bunda, Ami dan Azra juga tidak lupa menyetor di kamar kecil SPBU ini dan hebatnya lagi SPBU ini kita diharuskan membayar. Kalau kondisi WC bersih sih tidak apa-apa. Ini sudah mesti ngantri bayar lagi (bunda ngamuk-ngamuk). Bensin sejumlah Rp.93rb diisikan kedalam Fuel tank neng Erti.
Setelah kami mengisi bensin dan ke kamar mandi kami memulai perjalann menuju Palembang. Kondisi jalan dari Bakaheuni menuju Sukadana relatif bagus walau ada di beberapa titik yang jalannya jelek bahkan tidak ada Aspalnya.
Selepas waktu sholat kami berhenti disebuah mesjid yang cukup besar di Sukadana untuk melakukan sholat Zhuhur dan juga makan siang. Istilah kerennya Isoma. Satu jam kami istirahat siang di Mesjid tersebut. Pada jam 01.30 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Palembang.
Kondisi jalan di propinsi Lampung relatif bagus, Cuma dibeberapa tempat terjadi kerusakan jalan terutama pada posisi jembatan dan sambungan jembatan. Dengan lancar kami melewati daerah seputih banyak – Tulang Bawang – Mesuji wilayah Lampung. Beragam pemandangan terlihat sewaktu diperjalannan. Mulai dari Persawahan, Perkebunan tebu, perkebunan sawit, Perkampungan transmigran dan pedesaan. Dibandingkan dengan Lintas Tengah jalur ini lebih ramai penduduknya atau dengan kata lain lebih ramah penduduknya dibandingkan dengan Jalur Lintas tengah Sumatra yang masih ada hutan-hutanya. Jadi kesannya lebih angker. Tapi soal keamanan saya tidak bisa membandingkan keduanya.
Kecepatan mobil bisa dipacu maximum tapi harus konsentrasi karena dari jalan yang semulus-mulusnya jalan bisa berobah menjadi jalan yang jelek sangat. Jalannya pun banyak jalan yang lurus dan naik turun. Lebar jalannya pun lumayan besar. Memang  cocok dijadikan Jalan propinsi.
Memasuk wilayah Mesuji Sumatra Selatan-Tugu Mulyo, kondisi jalan masih bagus, walau kondisi jalan masih sama dengan jalan sebelumnya, yaitu jalannya kadang mulus tiba-tiba berubah jadi jalan jelek. Beberapa kali mobil kami menghantam lubang yang menganga dijalan. Aduh hancur deh mobilku kata saya dalam hati. Kondisi jalan makin parah semakin sore dan Sewaktu kami masuk ke kota Kayu Agung diperparah dengan banyaknya truk yang akan masuk kekota Palembang.
Kami langsung masuk ke sebuah SPBU didaerah Kayu Agung untuk Isoma. Selesai makan dan sholat kami langsung melanjutkan perjalanan. Kadang macet meperlama kami masuk kedalam kota Palembang. Jalan Rusak Parah. Jalan nasional kok rusak parah seperti ini.
Sekitar jam 22.00 kami sampai di Indralaya. Kami pun mengisi Bensin disalah satu SPBU dikota ini. Bahan bakar diisi penuh. Kondisi mata sayapun sudah sangat berat dan harus diistirahatkan dahulu. Maka di SPBU ini saya tidur dulu sejenak. Kurang lebih 30 menit saya tertidur. Selesai tidur saya cuci muka dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan dari Indralaya – Palembang, banyak sekali mobil truk yang akan menuju Palembang dan kondisi jalan jauh sekali kalau dikatakan layak. Banyak lubang disana sini, beberapa kali Bumper mobil kami menyentuh permukaan jalan. Yang membuat saya heran kok sedikit sekali mobil pribadi yang melewati jalan ini. sepertinya masih ada jalan lain menuju Palembang yang selain jalan ini. Berhubung kami tidak mengetahui jalan alternatif tersebut terpaksa kami mengikuti truk-truk tersebut menuju kota Palembang.
Makin mendekati kota Palembang jalan mulai membaik dan truk menghilang seperti ditelan bumi (karena truk tidak boleh masuk kota). Kami melewati jembatan Kertapati sekitar jam 12 malam. Tidak lama berselang jembatan Ampera pun terlihat dengan megahnya. Kondisi Palembang saat itu sudah mulai agak lengang. Masih ada beberapa komunitas motor masih berkumpul. Mobil langsung diarahkan ke jalan Veteran dan masuk kedalam Lorong Candi. Akhirnya kamipun menginjakkan kaki di Kota Palembang. Alhamdulillah.
Saya tidak percaya kalau perjalanan dari Bekasi – Palembang membutuhkan waktu kurang lebih 24 jam. Berbeda sekali dengan cerita yang saya baca di beberapa blog. Tapi yang penting kami sekeluarga sampai dengan selamat di kota Palembang. Selesai Bongkar muat seperlunya dirumah. Kami semua tertidur pulas.
Hari Pertama saya diPalembang dihabiskan dengan tidur sepuasnya diranjang. Akan tetapi Ibu mengajak kami untuk mengunjungi saudara kami yang ada di palembang. Jadi untuk tidur spuasnya ditunda dulu. Sekitar jam 10an kami berangkat kerumah sepupu saya yang berada diaerah Pakjo, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah sepeupu saya didaerah dekat Yayasan IBA. Dari kedua kunjungan kami ini sudah bisa ditebak kalau pempek adalah makanan yang paling kami serbu. Pada kunjungan kedua kami juga disuguhi model Palembang. Kalau yang ini saya yang sapu bersih.
Selesai kunjungan ke kedua saudara kami di palembang, saya meneruskan kunjungan saya ke sekolah saya dulu swaktu sekolah di SDN 255 Palembang dan SMPN 3 palembang. Untuk SD saya sedikit heran kenapa nomor SD saya berubah menjadi SDN 40 palembang, sedangkan untuk SMP masih seperti dahulu Cuma bertambah besar saja.
Foto Gerbang SD

Foto SMP saya

Dalam Perjalan Pulang kami menerima telepon dari Uni Eva yang mengajak kami untuk menikmati makan diluar besok hari. Kami mengiyakan ajakan ini. Entah kenapa waktu dirubah menjadi malam itu juga. Terpakasa kami menolak ajakan tersebut karena kami semua sudah kenyang. Tapi Uni Eva berkeras mengajak kami makan diluar. Ya udah kami ingin jalan-jalan di Benteng Kuto Besak (BKB).  Maka jalanlah kami semua dengan menggunakan 2 mobil ke daerah Benteng Kuto Besak.
Kami parkir diarea parkir Riverside restoran. Konsepnya hampir sama dengan bandar jakarta. Kalau bandar Jakarta dipinggir pantai sedangkan restoran ini dipnggir sungai. Untuk soal pelayanan kalah jauh dibandingkan bandar jakarta. Untuk menu yang sudah dipesan datangnya tidak serentak kadang ada yang sudah kelar makannya ada yang belum makan sama sekali. Pelayan kadang seperti sangat sekali. Mungkin restoran ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi untuk view pada malam hari Restoran ini lumayan bagus.Ada beberapa restoran lain yang saya lihat di pinggir sungai Musi. Sepertinya wisata kuliner sedang bergeliat di kota ini.
Makan Malam

Makan malam keluarga di Pinggir Sungai Musi
Narsis dulu

Tiga Pendekar

Sungai Musi dan Jembatan Ampera pada Malam hari

Selesai makan kami langsung pulang, sedangkan nenek & ibu tidur dirumah uni Eva. Sedangkan saya dan keluarga tidur dirumah Oma Tuti.
Pada hari Senin, sehabis bangun saya mengajak bunda untuk jalan ke GOR Jakabaring, mumpung kami berada dipalembang. Tidak perlu mandi pagi kami langsung berangkat. Yang berangkat Cuma saya, bunda, Oma Tuti dan Ami. Kondisi lalulintas di Palembang saat itu masih sepi. Kata Oma saya biasanya didaerah menuju kesana macet sekali karena ada pembangunan fly over diperempatannya. Tidak sampai 15 menit kamipun sampai di komplek olahraga jakabaring tersebut.  Menurut saya kompleks olehraga ini cukup besar  dan sepertinya juga butuh dana yang besar untuk perawatannya.
Jalan menuju Jakabaring

Tugu didekat Jakabaring


Kolam Renang

Selesai jalan pagi di area Jakabaring sport center, kami langsung mencari sarapan pagi yang khas Palembang kata Oma tuti sih ada di pasar Kuto. Maka langsunglah kami beranjak menuju Pasar Kuto. Jujur kalau dulu sarapan favorit saya di palembang adalah Model, tapi kata Oma Tuti sih ada yang lain yaitu Burgo, Lakso, Lakso dll. Wah lumayan juga nih nyobain makanan baru di Palembang.
Sesampai di Pasar Kuto, kami langsung memarkir mobil dan menuju restoran yang dimaksud. Kami masuk kedalam sebuah ruko dipinggir jalan didekat pasar Kuto, berhubung dekat dengan pasar untuk parkir sendiri agak sulit. Kami memesan tiga piring sarapan campur (Laksa, Lakso, Burgo dll). Inilah untuk pertama kalinya saya mencoba sarapan ini. Makanannya seperti gule atau kari ditambah dengan macam-macam yang saya tidak tau namanya. Untuk rasa kari atau kuahnya sendiri enak sekali tapi saya kurang suka dengan isinya. Mungkin lebih baik diganti dengan lontong atau ketupat. Untuk harga seporsi dihargai Rp. 12rb/ porsi.

Foto restoran

Martabak

Sarapan Mix (Burgo, Laksa, Lakso entah apa itu)

Makanan tradisional (makanan lama)
Ternyata ada sebuah makanan lagi yang tersaji diatas meja yang belum kami coba. Untuk bentuknya seperti lontong dijakarta, tapi didalamnya ditambahkan kelapa untuk membuat lebih enaknya. Memang setelah dicicipi makanan ini memang enak. Kata yang jual ini adalah makanan orang-orang dulu. Setelah makan kami membayar semuka makanan yang kami makan dan untuk semua makanan yang kami makan total kami harus membayar Rp. 83rb. Lumayan mahal untuk sebuah sarapan.
Selesai makan kami langsung menuju pasar Cinde, untuk membeli ikan Gabus. Kami ingin Oma Tuti membuat pempek sesuai dengan keahliannya. Oma Tuti sangat pandai mebuat pempek jadi kami tidak perlu membeli pempek lagi untuk dibawa pulang.
Untuk membuat pempek bisa menggunakan ikan belida yanga paling top dagingnya trus ikan gabus dan bisa juga ikan tenggiri. Kesemua ikan-ikan itu termasuk ikan-ikan mahal. Sekilonya sekitar Rp. 60rb. Untuk Ikan gabus. Ikan belida lebih mahal lagi. Kata Oma tuti untuk membuat pempek tepung  yang digunakan khusus dan gula merah batok yang dipakai untuk membuat cuka juga khusus. Adik saya pernah mencari gula ini di jakarta dan belum bertemu sampai sekarang. Kalau memakai Gula merah sembarangan bisa merusak rasa cuka pempeknya.
Kami pun Pulang selesai belanja, Oma Tuti akan membuat pempek nanti siang selesai kami jalan untuk membeli es kacang merah di sekat lapangan Hatta, yang dekat rumah kami.
Sekitar jam 13.00 kami semua berangkat untuk membeli kerupuk kemplang didaerah Pasar Cinde lagi dan wisata kuliner es kacang merah di lapangan Hatta. Bunda, Umi dan nenek langsung belanja kerupuk di Pasar Cinde sesampainya kami disana.
Selesainya belanja kerupuk, kamipun bergegas menuju lapangan Hatta, sayangnya sekarang bayak peraturan baru disini jadi untuk menuju suatu tempat yang dekat kita harus memutar dulu. Karena ada beberapa perempatan yang ditutup sehingga buat yang mau memutar mesti jalan dulu sedikit. Tapi ini baik untuk membuat lalu lintas menjadi lancar.
Ketika kami berada perapatan International Plaza (IP) Umi bilang ke bunda “Bunda sudah pasang saftybelt belum?” entah mengapa mata saya juga melirik ke Bunda, dan tiba-tiba “Braaaaaakkkkkk”. Mobil kami menabrak bus kota.  Bus kota yang berhenti mendadak ditengah jalan dan kondisi saya sedang tidak fokus menjadi penyebabnya. Sontak saya menginjak rem, Ami pun terpelanting jatuh dan menangis.
Saya hanya terdiam dan semua juga terdiam. Bagi bus kota mobil kami bukan lawan yang seimbang. Saya langsung membawa mobil ketempat yang aman dan memeriksa kerusakan mobil kami. Ternyata kerusakannya cukup parah. Lampu depan kiri pecah, Bumper sobek, side fender ketekuk dan sepertinya ada bagian dalam mobil yang tertekan sehingga ban dan karet bawah bergesek.
Tanpa kata-kata perjalan ke Es kacang merah dibatalkan karena musibah ini. sesampai dirumah saya ingin memastikan lagi kondisi mobil. Ternyata Headlamp kiri mati total tapi lampu signal lamp masih hidup. Jadi kami akan pulang ke jakarta dengan berbekal Fog lamp dan satu lampu Headlamp. Alhamdulillah ini mobil masih asuransi jadi saya tidak pusing lagi. Saya tinggal lapor pihak Asuransi untuk membuat laporan. Untuk detail cara pelaporan dan cara klaim auransi Autocilin akan saya ceritakan di cerita berikutnya.
Kondisi Neng Erti

Detil Neng Erti yang ringsek
Saya memutuskan kalau kami jadi pulang esok pagi. Jadi mobil saya beri lakban bening pada bagian yang rusak untuk mencegah air masuk kedalam bagian yang pecah dan menyebabkan hubungan singkat. Setelah itu saya beristirahat dan melihat proses pembuatan pempek oleh Oma Tuti.


Malam itu saya tidur agak cepat, untuk dapat bagun lebih pagi esoknya. Tapi ternyata tetep saya tidak bisa bangun pagi. Saya tetap dibangunkan oleh nenek. Kami dibangunkan pada pukul 03.00 dinihari dan mulai beres-beres dan memasukkan barang-barang ke mobil.
Selesai kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil kami langsung pamit ke Oma Tuti dan Opa Taufik untuk balik ke Jakarta. Kami meninggalkan Palembang jam 04.05 pagi. Langsung mobil saya bawa ke Jl. Sudirman – Jembatan Ampera – Jakabaring. Kami sewaktu kunjungan ke rumah Uni Eva pernah bertanya jalan alternatif ke kak Alex (suami Uni Eva). Kami disarankan untuk mencoba jalan ini. dari jembatan Ampera terus saja samapai ketemu Hypermart dan terus saja sampai jalan mentok (pertigaan) dan kami disarankan belok kanan. Tapi berdasarkan Gogle Map saya bisa mengambil jalur lain.
Jalur alternatif
Jalur yang saya ambil itu adalah jalur yang berwarna biru sedangkan jalur saya datang ke Palembang adalah berwarna Kuning. Memang konisi jalan tidak jauh berbeda tapi agak sedikit lebih baik jalur alternatif yang saya pilih, karena jalannya tidak terlalu rusak (walau ada juga yang rusak), jalannya relatif sepi bahkan kadang menyeramkan. Bisa dibayangkan Cuma beberapa kilometer dari Palembang kita akan disuguhi jalan tanpa rumah dan penerangan sama sekali, total gelap gilita kecuali lampu mobil. Sesekali ada pemotor yang lewat yang membawa side box tradisional alias tempat jualan.
Side box Biker

Sepertinya mereka adalah para pedagang yang akan berjualan. Banyak sekali kami bertemu dengan pemotor seperti ini selama kami diperjalanan menuju Kayu Agung.
Pemandanganpun selama perjalanan cukup menarik. Kadang kami melihat sungai dan rumah dipinggir sungai. Rumah tradisional Sumatera Selatan. Pemandangan yang indah ini kadang dirusak oleh salah satu parpol yang memasang warna mencolok di sekolah dan gedung-gedung pemerintahan.

Jalur yang kami pilih ini lumayan cepat dibanding jalu kedatangan kami ke Palembang sekitar 1 jam-an. Dijalur ini tidak kami temukan truk besar sama sekali.
Sekitar jam 7pagi kami sampai di Kayu Agung dan kami langsung mencari SPBU untuk beristirahat. Selang tidak berapa lama kami menemukan sebuah SPBU yang mempunyai parkiran yang besar. Saya langsung masuk kedalam area parkir SPBU tersebut. Sebagian anggota team saya langsung menuju kamar kecil termasuk saya. Kamar mandinya lumayan bersih dan terawat.
Selesai buang air, kami semua melanjutkan sarapan pagi dengan menu Pop Mie (hehehe). Kali ini saya langsung makan dua buah Pop Mie. Sekitar 30 menit kami beristirahat disana.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami Tugu Mulyo dan Mesuji di wilayah Sumatera Selatan. Behubung waktu masih siang hari. Dan kondisi saya masih fit. saya sangat memperhatikan jalan jadi menjelang jalan jelek saya selalu mengerem dan hanya beberapa kali menghantam lobang.

Kondisi jalan




Banyak rumah ada tempat ibadahnya

Kondisi Jalan





Selama diperjalan di daerah Mesuji beberapa kali kami menemukan Razia kendaraan tapi sepertinya ini ditujukan kepada kendaraan truk. Kendaraan kami tidak pernah dihentikan oleh polisi hanya dilihat saja dengan pandangan tajam.  Lokasi razianya pun di tengah kebun karet atau ditengah hutan gitu. Jadi tidak disangka-sangka posisinya.
Perjalanan kami teruskan didaerah Lampung memasuki Mesuji – Tulang bawang – Seputih Banyak. Kami memasuki Seputih Bsekitar jam 13.00 siang. Kami menemukan sebuah Mesjid yang likasi parkirnya lumayan luas dan bisa dijadikan tempat makan siang. Sebagian anggota melaksanakan sholat zhuhur dan Ashar yang dijama’ dan sebagian makan siang. Saya memberikan waktu satu jam bagi Bunda, Nenek, Umi dll untuk melaksanakan Isoma biar kita on time.
Mesjid kami beristirahat sewaktu pulang ke Jakarta

Selesai melaksanakan isoma kami melanjukan perjalanan menuju Sukadana dimana kami sewaktu keberangkatan melaksanakan sholat Zhuhur disana. Sekitar jam 14.30 kami melewati Sukadana.
Mesjid di Sukadana
Perjalanan kami teruskan ke Way Jepara, karena kami ingin menyeberang diwaktu matahari masih terang, biar anak-anak bisa menikmati perjalanan diatas kapal.

Kami sampai di bakaheuni sekitar jam 17.00 sore. Kami langsung masuk dan membayar untuk masuk kapal. Disini mulai timbul masalah. Kami tidak tahu dermaga mana yang sedang loading. Jadi kami mulai berputar-putar mencari dermaga yang cepat bisa menganggkut kami ke kapal. Ada beberapa mobil yang kondisinya sama seperti kami yang berputar-puatr mencari kapal. Dari dermaga 1 saya pindah ke dermaga 3 terus balik ke dermaga 2 akhirnya ke dermaga 5.
Pada jam 18.30. baru kendaraan diperbolehkan masuk kedalama kapal. Dan ini juga berlangsung lama sekali samapai pintu kapal ditutup dan kapal mulai berjalan. Pada awalnya saya berpikir kapal ini termasuk yang lumayan cepat tapi saya salah. Kapal ini sangat lambat sekali, mulai dari anak kami semangat sampai mereka kelelahan kapal belum juga sampai ke merak. Bahkan sempat kapal ini berhenti dahulu dilau dan saya juga sempat tertidur dimobil.
Jam 11 malam kendaraan kami mendarat di bumi jawa. Dengan bermodalkan penerangan dari 1 buah Headlamp dan 2 foglamp kami pun berkendara pulang. Mulai dari Merak – Cilegon – Serang – Cikupa- tangerang. Jalan dalam kondisi lancar kadang ada truk yang mengambil jalur tengah alias jalur cepat.
Sewaktu akan masuk ke tol dalam kota di kebun Jeruk kami dikepung oleh pasukan truk yang akan masuk melewati tol dalam kota. Terpaksa  kami masuk tol melwati pintu tol grogol. Dan pada jam 01.20 kamipun sampai dirumah dengan selamat. Sampai jumpa diperjalanan kami selanjutnya. Alhamdulillah

Catatan tambahan ;
Jarak tempuh total :   km
Total bahan bakar :
Konsumsi bahan bakar :
Tol :