Thursday, April 10, 2014

Perjalanan Liburan Jakarta - Palembang

Sudah Tiga bulan sejak perjalanan kami ke Jogya berlalu. Keinginan saya untuk mengajak keluarga liburan ketempat yang belum pernah dikunjungi semakin semakin tinggi. Mau diajak kemana yah Bunda, Azra & Ami kali ini. Kebetulan Opa (kakek Azra & Ami) mau melakukan perjalan ke Palembang. Saya melemparkan ide ke Bunda, kenapa  tidak kita aja yang mengantar Opa Gani ke palembang, sekalian liburan lumayan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Bunda langsung setuju dan tinggal dicarilah waktu yang enak buat kami liburan ke sumatera. Perjalan ini kami anggap sebagai pemanasan sebelum lebaran tiba. Kami bedua mulai membolak balik kalender 2014. Jadwal perjalanan disesuaikan dengan kesibukan kami dikantor.
Dari pencarian kami didapatlah tanggal baik keberangkatan kami itu pada tanggal 28 Maret 2014 dan kami akan kembali ke Jakarta dari Palembang pada hari Selasa tanggal 1 April 2014. Dikarenakan hari Senin merupakan hari libur nasional maka kami sedikit memperpanjang liburan kami di Palembang. Kami ingin menikmati liburan ini dengan santai dan ingin mencicipi kuliner khas Palembang.
Mulailah kami hunting tempat-tempat yang nantinya kami kunjungi (biasanya sih gagal hehehehe). Walaupun biasanya kami bisa mewujudkan itinerari yang telah kami buat tapi kami biasanya selalu membuat jadwal perjalanan kami. Mulai dari Pulau Kamaro, Benteng Kuto Besak dll. Juga kami memutuskan jalur mana yang akan kami pakai nantinya dalam perjalanan ke Palembang. Saya dan bunda memutuskan untuk mencoba Jalur baru yang belum pernah kami coba sebelumnya yaitu Jalur Lintas Pantai Timur Sumatra. Saya membaca dari beberapa blog bahwa Jalur ini kondisi jalannya lumayan bagus.

Jalur darat yang akan kami tempuh
Jarak tempuh Jakarta – Palembang lewat jalur Lintas Pantai Timur Sumatra ada sekitar 619km (termasuk menyeberang dengan ferry). Kalau berdasarkan Gogle map dibutuhkan sekitar 9 jam 39 menit perjalanan darat. Pertanyaan saya. Apakah pada kenyataannya waktunya sama kalau ini dijalani langsung?
Pada perjalanan kali ini kami sekeluarga juga akan mengajak ibu saya (yang biasa dipanggil Azra & Ami nenek), Umi & Tama (panggilan adik saya) & Opa. Jadi total semua dalam satu kendaraan ada 5 orang dewasa dan 3 orang anak-anak. Waw inilah perjalanan teramai kami. Biasanya kami melakukan perjalanan jauh maksimal 4 orang dewasa dan 2 orang anak kecil. Tapi biarlah sesekali ramai tidak apa-apa.
Segala sesuatu kami persiapkan dengan baik mulai dari dana, kendaraan dll. Bunda kebagian mempersiapkan menu salama kami diperjalanan. Diperjalanan ini rencanannya kami tidak akan makan di restoran tapi kami akan membawa semua makanan dari rumah. Kerena lebih terjamin kebersihannya dan juga lebih murah (hehehe). Kali ini menu yang akan kami bawa adalah dendeng. Sedangkan untuk makanan kecil untuk para krucil dipercayakan kepada nenek.
Mendekati Hari H ada sedikit musibah yang menimpa kami. Kedua anak kami menderita sakit. Azra demam tinggi dan Ami demam dan batuk. Perjalan ini sempat terancam batal, tetapi setelah diberi obat oleh dokter anak. Kedua anak kami mulai berangsur sembuh. Jadi kami putuskan kalau kami jadi melakukan perjalanan ini.
Pada tanggal 28 Maret 2014, setelah semua persiapan dilakukan kami tetap masuk kekantor. Kami berangkat malam soalnya. Sorenya Jakarta hujan deras dan kondisi lalu lintas sangat macet karena semua orang ini cepat pulang karena long week end. Jarak dari kantor bunda ke kentor saya tidak lebih dari 10 km. Tapi untuk menempuh jarak itu pada saat orang akan long week end bisa menghabiskan waktu 2 jam. Yup benar, 2 jam yang dibutuhkan bunda menempuh jarah Cikini ke Pemuda pada saat akan long week end. Padahal saya sudah berangan-angan untuk tidur cepat karena besok akan melakukan perjalanan jauh.
Baru sekitar jam 7 malam saya bertemu dengan Bunda di dekat toko pakaian muslim Rabbani dimana kami biasa bertemu. Sekitar jam 8 malam kami sampai dirumah, itupun harus mutar sana-sini karena terjadi banjir dibeberapa titik. Saya langsung tidur sedangkan bunda mulai packing karena kemaren-kemaren masih ragu akan jalan atau tidak. Rancananya saya akan bangun jam 23.00 akan tetapi karena kecapean saya terbagun jam 00.00. Mulailah kami menyusun semua barang yang akan kami bawa kedalam mobil. Saya membuat peraturan berhubung mobil kami kecil, semua penumpang dilarang membawa banyak barang bawaan (hehehe). Abi (suami adik saya) nanti juga akan nebeng sampai ke cilegon ke tempat orang tuanya selama istrinya ikut dengan saya. Jadi nantinya kondisi mobil saya akan penuh di isi oleh 6 orang dewasa dan 3 anak kecil.Waw rekor lagi bagi neng erti.
Perlengkapan yang akan dibawa (sebagian kecil)
Sekitar jam 01.00 kami meninggalkan rumah untuk memulai perjalanan ke pulau Sumatera, tapi sebelum masuk kedalam pintu tol Jatibening saya mengisi bensin dahulu. Bensin diisi penuh sampai “muntah”, karena saya ingin membandingkan konsumsi bahan bakar yang dibutuhkan untuk menuju Palembang. Perlu diketahui bahwa dalam membawa mobil saya tidak concern dengan cara bawa mobil. Saya membawa mobil berdasarkan keinginan saya. Jadi bisa dikatakan tidak merujuk kepada cara mengemudi yang benar. Bisa jadi cara bawa mobil saya sangat boros. Jadi saat mengisi bensin ini saya anggap titik nol. Jadi nanti saya akan mengisi penuh lagi bensin saat akan pulang nantinya, sehingga bisa didapat konsumsi bahan bakar l/kmnya.
Setelah mengisi bensin, saya menyempatkan mengisi kartu e-toll yang saya miliki sebanyak 2 buah dengan nominal Rp.50rb. setelah melakukan top up kartu e-toll kami langsung berangkat meninggalkan Jakarta (eh salah Bekasi deng). Memasuki Jakarta kondisi lalu lintas tol masih ramai terutama truk karena truk sudah boleh melewati tol dalam kota pada jam-jam itu. Kondisi masih dalam keadaan ramai lancar. Akan tetapi mendekati pintu tol karang tengah kecepatan kendaraan makin lambat dan cenderung berhenti. Saya berpikir ini pasti karena pintu tol yang membuat lalu lintas macet. Setelah melewati pintu tol kecepatan kendaraan tidak bertambah, ternyata ini diakibatkan oleh adanya perbaikan jalan oleh pihak operator jalan tol. Saya heran ini jalan tol kok tidak pernah selesai-selesai ya perbaikannya.
Kemacetan Jalan tol Merak


Perjalanan kami sedikit tersendat. Saya membuat jadwal sekitar jam 3 saya sudah masuk merak. Akan tetapi karena kemacetan saya baru masuk kedalam pelabuhan jam 4.30 dan terlebih dahulu kami mengantarkan Abi kerumah dahulu. Jadi kami tidak keluar ke Pintu tol Merak, kami keluar di Pintu tol Cilegon Barat.
Dari rumah Abi kami melanjutkan perjalanan dengan menempuh jalur jalan non tol menuju Merak. Sewaktu akan masuk Merak, saya salah masuk pintu gerbang. Saya masuk ke pintu gerbang parkir untuk terminal bus Merak. Aduh… Saya keluar lagi dan tetap saya harus bayar Rp. 6rb untuk waktu tidak sampai 5 menit. Lebih mahal dari parkir di mall-mall di Jakarta. Sepertinya saya tidak memperhatikan rambu penunjuk jalan. Ternyata jalan masuknya berada dijalan sebelah yang saya masuki tadi. Pada gerbang masuk pelabuhan kami diharuskan membayar Rp, 275rb (sudah termasuk penumpang).
Setelah melakukan pembayaran saya langsung menginjak gas dengan harapan cepat masuk bus. Ternyata ada antrian mobil yang cukup panjang. Saya langsung mengikuti antrian ini. seingat saya dermaga di Pelabuhan Merak ini cukup banyak tapi kenapa orang mengantri di satu dermaga saja. Ternyata memang ada banyak dermaga di pelabuhan Merak ini tapi rambu petunjuklah yang kurang di pelabuhan ini. sehingga banyak orang yang mengantri di satu dermaga saja padahal masih bnayak dermaga yang lain. Setelah ada salah seorang petugas datang memberitahu barulah antrian ini pecah dan berkurang. Kami langsung menuju dermaga 3 dengan harapan bisa parkir di lantai atas sehingga bisa melihat pemandangan laut dengan leluasa buat Azra dan Ami.

Antri masuk kapal

 Erti Neng Sedang Mejeng mau masuk kapal

Kami masih harus menunggu kapal merapat terlebih dahulu dan juga harus menunggu bongkar muat kendaraan di kapal. Mulai jam 6an kapal mulai dimasuki kendaraan niaga dan pribadi. Kami memang beruntuk kami tidak perlu menunggu untuk kapal berikutnya. Tepat jam 7.20 kapal mulai berangkat berlayar menyeberabngi Selat sunda menuju Pulau Sumatra. Ini sudah sangat telat sekali dari jadwal yang telah kami buat sebelumnya jadwal kami adalah Jam 6 itu kami sudah harus tiba di Bakaheuni dan istrirahat sebentar sebelum masuk ke Jalur Lintas Pantai Timur Sumatra. Apa daya kami meleset jauh dari jadwal. Ya sudah jalani saja apa adanya.
Foto mulai berlayar

Mesin Mobil tetap hidup selama kami didalam karena pagi itu matahari sangan terik sekali. Kami juga mulai melakukan sarapan pagi. Untuk sarapan kami ini kemi sarapan dengan mie instan. Kami membawa banyak sekali stok Pop Mie yang akan kami nikmati dalam perjalanan. Untuk itu kami juga mempersiapkan termos air panas yang baru kami beli di dekat rumah Umi.

Sarapan pagi di mobil
Selesai sarapan kami keluar dari kendaraan untuk melihat-lihat pemandangan laut. Dan tidak lupa saya mengambil gambar kedua anak saya dan keluarga.
Antrian mobil yang menunggu kapal

Kapal yang sudah berlayar

Ami dan Azra sedang melihat laut

Kondisi penuhnya kapal

Kapal yang penuh dengan mobil

Sedang sarapan pagi

Sekitar jam 9.30 kami mulai mendarat di bumi Sumatra dan akan memulai perjalanan kami menuju Palembang. Terlebih dahulu saya kembali akan mengisi tangki neng erti sampai penuh, karena takut di jalur Lintas Pantai Timur Sumatra nantinya tidak banyak terdapat SPBU. Bunda, Ami dan Azra juga tidak lupa menyetor di kamar kecil SPBU ini dan hebatnya lagi SPBU ini kita diharuskan membayar. Kalau kondisi WC bersih sih tidak apa-apa. Ini sudah mesti ngantri bayar lagi (bunda ngamuk-ngamuk). Bensin sejumlah Rp.93rb diisikan kedalam Fuel tank neng Erti.
Setelah kami mengisi bensin dan ke kamar mandi kami memulai perjalann menuju Palembang. Kondisi jalan dari Bakaheuni menuju Sukadana relatif bagus walau ada di beberapa titik yang jalannya jelek bahkan tidak ada Aspalnya.
Selepas waktu sholat kami berhenti disebuah mesjid yang cukup besar di Sukadana untuk melakukan sholat Zhuhur dan juga makan siang. Istilah kerennya Isoma. Satu jam kami istirahat siang di Mesjid tersebut. Pada jam 01.30 kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Palembang.
Kondisi jalan di propinsi Lampung relatif bagus, Cuma dibeberapa tempat terjadi kerusakan jalan terutama pada posisi jembatan dan sambungan jembatan. Dengan lancar kami melewati daerah seputih banyak – Tulang Bawang – Mesuji wilayah Lampung. Beragam pemandangan terlihat sewaktu diperjalannan. Mulai dari Persawahan, Perkebunan tebu, perkebunan sawit, Perkampungan transmigran dan pedesaan. Dibandingkan dengan Lintas Tengah jalur ini lebih ramai penduduknya atau dengan kata lain lebih ramah penduduknya dibandingkan dengan Jalur Lintas tengah Sumatra yang masih ada hutan-hutanya. Jadi kesannya lebih angker. Tapi soal keamanan saya tidak bisa membandingkan keduanya.
Kecepatan mobil bisa dipacu maximum tapi harus konsentrasi karena dari jalan yang semulus-mulusnya jalan bisa berobah menjadi jalan yang jelek sangat. Jalannya pun banyak jalan yang lurus dan naik turun. Lebar jalannya pun lumayan besar. Memang  cocok dijadikan Jalan propinsi.
Memasuk wilayah Mesuji Sumatra Selatan-Tugu Mulyo, kondisi jalan masih bagus, walau kondisi jalan masih sama dengan jalan sebelumnya, yaitu jalannya kadang mulus tiba-tiba berubah jadi jalan jelek. Beberapa kali mobil kami menghantam lubang yang menganga dijalan. Aduh hancur deh mobilku kata saya dalam hati. Kondisi jalan makin parah semakin sore dan Sewaktu kami masuk ke kota Kayu Agung diperparah dengan banyaknya truk yang akan masuk kekota Palembang.
Kami langsung masuk ke sebuah SPBU didaerah Kayu Agung untuk Isoma. Selesai makan dan sholat kami langsung melanjutkan perjalanan. Kadang macet meperlama kami masuk kedalam kota Palembang. Jalan Rusak Parah. Jalan nasional kok rusak parah seperti ini.
Sekitar jam 22.00 kami sampai di Indralaya. Kami pun mengisi Bensin disalah satu SPBU dikota ini. Bahan bakar diisi penuh. Kondisi mata sayapun sudah sangat berat dan harus diistirahatkan dahulu. Maka di SPBU ini saya tidur dulu sejenak. Kurang lebih 30 menit saya tertidur. Selesai tidur saya cuci muka dulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Sepanjang jalan dari Indralaya – Palembang, banyak sekali mobil truk yang akan menuju Palembang dan kondisi jalan jauh sekali kalau dikatakan layak. Banyak lubang disana sini, beberapa kali Bumper mobil kami menyentuh permukaan jalan. Yang membuat saya heran kok sedikit sekali mobil pribadi yang melewati jalan ini. sepertinya masih ada jalan lain menuju Palembang yang selain jalan ini. Berhubung kami tidak mengetahui jalan alternatif tersebut terpaksa kami mengikuti truk-truk tersebut menuju kota Palembang.
Makin mendekati kota Palembang jalan mulai membaik dan truk menghilang seperti ditelan bumi (karena truk tidak boleh masuk kota). Kami melewati jembatan Kertapati sekitar jam 12 malam. Tidak lama berselang jembatan Ampera pun terlihat dengan megahnya. Kondisi Palembang saat itu sudah mulai agak lengang. Masih ada beberapa komunitas motor masih berkumpul. Mobil langsung diarahkan ke jalan Veteran dan masuk kedalam Lorong Candi. Akhirnya kamipun menginjakkan kaki di Kota Palembang. Alhamdulillah.
Saya tidak percaya kalau perjalanan dari Bekasi – Palembang membutuhkan waktu kurang lebih 24 jam. Berbeda sekali dengan cerita yang saya baca di beberapa blog. Tapi yang penting kami sekeluarga sampai dengan selamat di kota Palembang. Selesai Bongkar muat seperlunya dirumah. Kami semua tertidur pulas.
Hari Pertama saya diPalembang dihabiskan dengan tidur sepuasnya diranjang. Akan tetapi Ibu mengajak kami untuk mengunjungi saudara kami yang ada di palembang. Jadi untuk tidur spuasnya ditunda dulu. Sekitar jam 10an kami berangkat kerumah sepupu saya yang berada diaerah Pakjo, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah sepeupu saya didaerah dekat Yayasan IBA. Dari kedua kunjungan kami ini sudah bisa ditebak kalau pempek adalah makanan yang paling kami serbu. Pada kunjungan kedua kami juga disuguhi model Palembang. Kalau yang ini saya yang sapu bersih.
Selesai kunjungan ke kedua saudara kami di palembang, saya meneruskan kunjungan saya ke sekolah saya dulu swaktu sekolah di SDN 255 Palembang dan SMPN 3 palembang. Untuk SD saya sedikit heran kenapa nomor SD saya berubah menjadi SDN 40 palembang, sedangkan untuk SMP masih seperti dahulu Cuma bertambah besar saja.
Foto Gerbang SD

Foto SMP saya

Dalam Perjalan Pulang kami menerima telepon dari Uni Eva yang mengajak kami untuk menikmati makan diluar besok hari. Kami mengiyakan ajakan ini. Entah kenapa waktu dirubah menjadi malam itu juga. Terpakasa kami menolak ajakan tersebut karena kami semua sudah kenyang. Tapi Uni Eva berkeras mengajak kami makan diluar. Ya udah kami ingin jalan-jalan di Benteng Kuto Besak (BKB).  Maka jalanlah kami semua dengan menggunakan 2 mobil ke daerah Benteng Kuto Besak.
Kami parkir diarea parkir Riverside restoran. Konsepnya hampir sama dengan bandar jakarta. Kalau bandar Jakarta dipinggir pantai sedangkan restoran ini dipnggir sungai. Untuk soal pelayanan kalah jauh dibandingkan bandar jakarta. Untuk menu yang sudah dipesan datangnya tidak serentak kadang ada yang sudah kelar makannya ada yang belum makan sama sekali. Pelayan kadang seperti sangat sekali. Mungkin restoran ini bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi untuk view pada malam hari Restoran ini lumayan bagus.Ada beberapa restoran lain yang saya lihat di pinggir sungai Musi. Sepertinya wisata kuliner sedang bergeliat di kota ini.
Makan Malam

Makan malam keluarga di Pinggir Sungai Musi
Narsis dulu

Tiga Pendekar

Sungai Musi dan Jembatan Ampera pada Malam hari

Selesai makan kami langsung pulang, sedangkan nenek & ibu tidur dirumah uni Eva. Sedangkan saya dan keluarga tidur dirumah Oma Tuti.
Pada hari Senin, sehabis bangun saya mengajak bunda untuk jalan ke GOR Jakabaring, mumpung kami berada dipalembang. Tidak perlu mandi pagi kami langsung berangkat. Yang berangkat Cuma saya, bunda, Oma Tuti dan Ami. Kondisi lalulintas di Palembang saat itu masih sepi. Kata Oma saya biasanya didaerah menuju kesana macet sekali karena ada pembangunan fly over diperempatannya. Tidak sampai 15 menit kamipun sampai di komplek olahraga jakabaring tersebut.  Menurut saya kompleks olehraga ini cukup besar  dan sepertinya juga butuh dana yang besar untuk perawatannya.
Jalan menuju Jakabaring

Tugu didekat Jakabaring


Kolam Renang

Selesai jalan pagi di area Jakabaring sport center, kami langsung mencari sarapan pagi yang khas Palembang kata Oma tuti sih ada di pasar Kuto. Maka langsunglah kami beranjak menuju Pasar Kuto. Jujur kalau dulu sarapan favorit saya di palembang adalah Model, tapi kata Oma Tuti sih ada yang lain yaitu Burgo, Lakso, Lakso dll. Wah lumayan juga nih nyobain makanan baru di Palembang.
Sesampai di Pasar Kuto, kami langsung memarkir mobil dan menuju restoran yang dimaksud. Kami masuk kedalam sebuah ruko dipinggir jalan didekat pasar Kuto, berhubung dekat dengan pasar untuk parkir sendiri agak sulit. Kami memesan tiga piring sarapan campur (Laksa, Lakso, Burgo dll). Inilah untuk pertama kalinya saya mencoba sarapan ini. Makanannya seperti gule atau kari ditambah dengan macam-macam yang saya tidak tau namanya. Untuk rasa kari atau kuahnya sendiri enak sekali tapi saya kurang suka dengan isinya. Mungkin lebih baik diganti dengan lontong atau ketupat. Untuk harga seporsi dihargai Rp. 12rb/ porsi.

Foto restoran

Martabak

Sarapan Mix (Burgo, Laksa, Lakso entah apa itu)

Makanan tradisional (makanan lama)
Ternyata ada sebuah makanan lagi yang tersaji diatas meja yang belum kami coba. Untuk bentuknya seperti lontong dijakarta, tapi didalamnya ditambahkan kelapa untuk membuat lebih enaknya. Memang setelah dicicipi makanan ini memang enak. Kata yang jual ini adalah makanan orang-orang dulu. Setelah makan kami membayar semuka makanan yang kami makan dan untuk semua makanan yang kami makan total kami harus membayar Rp. 83rb. Lumayan mahal untuk sebuah sarapan.
Selesai makan kami langsung menuju pasar Cinde, untuk membeli ikan Gabus. Kami ingin Oma Tuti membuat pempek sesuai dengan keahliannya. Oma Tuti sangat pandai mebuat pempek jadi kami tidak perlu membeli pempek lagi untuk dibawa pulang.
Untuk membuat pempek bisa menggunakan ikan belida yanga paling top dagingnya trus ikan gabus dan bisa juga ikan tenggiri. Kesemua ikan-ikan itu termasuk ikan-ikan mahal. Sekilonya sekitar Rp. 60rb. Untuk Ikan gabus. Ikan belida lebih mahal lagi. Kata Oma tuti untuk membuat pempek tepung  yang digunakan khusus dan gula merah batok yang dipakai untuk membuat cuka juga khusus. Adik saya pernah mencari gula ini di jakarta dan belum bertemu sampai sekarang. Kalau memakai Gula merah sembarangan bisa merusak rasa cuka pempeknya.
Kami pun Pulang selesai belanja, Oma Tuti akan membuat pempek nanti siang selesai kami jalan untuk membeli es kacang merah di sekat lapangan Hatta, yang dekat rumah kami.
Sekitar jam 13.00 kami semua berangkat untuk membeli kerupuk kemplang didaerah Pasar Cinde lagi dan wisata kuliner es kacang merah di lapangan Hatta. Bunda, Umi dan nenek langsung belanja kerupuk di Pasar Cinde sesampainya kami disana.
Selesainya belanja kerupuk, kamipun bergegas menuju lapangan Hatta, sayangnya sekarang bayak peraturan baru disini jadi untuk menuju suatu tempat yang dekat kita harus memutar dulu. Karena ada beberapa perempatan yang ditutup sehingga buat yang mau memutar mesti jalan dulu sedikit. Tapi ini baik untuk membuat lalu lintas menjadi lancar.
Ketika kami berada perapatan International Plaza (IP) Umi bilang ke bunda “Bunda sudah pasang saftybelt belum?” entah mengapa mata saya juga melirik ke Bunda, dan tiba-tiba “Braaaaaakkkkkk”. Mobil kami menabrak bus kota.  Bus kota yang berhenti mendadak ditengah jalan dan kondisi saya sedang tidak fokus menjadi penyebabnya. Sontak saya menginjak rem, Ami pun terpelanting jatuh dan menangis.
Saya hanya terdiam dan semua juga terdiam. Bagi bus kota mobil kami bukan lawan yang seimbang. Saya langsung membawa mobil ketempat yang aman dan memeriksa kerusakan mobil kami. Ternyata kerusakannya cukup parah. Lampu depan kiri pecah, Bumper sobek, side fender ketekuk dan sepertinya ada bagian dalam mobil yang tertekan sehingga ban dan karet bawah bergesek.
Tanpa kata-kata perjalan ke Es kacang merah dibatalkan karena musibah ini. sesampai dirumah saya ingin memastikan lagi kondisi mobil. Ternyata Headlamp kiri mati total tapi lampu signal lamp masih hidup. Jadi kami akan pulang ke jakarta dengan berbekal Fog lamp dan satu lampu Headlamp. Alhamdulillah ini mobil masih asuransi jadi saya tidak pusing lagi. Saya tinggal lapor pihak Asuransi untuk membuat laporan. Untuk detail cara pelaporan dan cara klaim auransi Autocilin akan saya ceritakan di cerita berikutnya.
Kondisi Neng Erti

Detil Neng Erti yang ringsek
Saya memutuskan kalau kami jadi pulang esok pagi. Jadi mobil saya beri lakban bening pada bagian yang rusak untuk mencegah air masuk kedalam bagian yang pecah dan menyebabkan hubungan singkat. Setelah itu saya beristirahat dan melihat proses pembuatan pempek oleh Oma Tuti.


Malam itu saya tidur agak cepat, untuk dapat bagun lebih pagi esoknya. Tapi ternyata tetep saya tidak bisa bangun pagi. Saya tetap dibangunkan oleh nenek. Kami dibangunkan pada pukul 03.00 dinihari dan mulai beres-beres dan memasukkan barang-barang ke mobil.
Selesai kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil kami langsung pamit ke Oma Tuti dan Opa Taufik untuk balik ke Jakarta. Kami meninggalkan Palembang jam 04.05 pagi. Langsung mobil saya bawa ke Jl. Sudirman – Jembatan Ampera – Jakabaring. Kami sewaktu kunjungan ke rumah Uni Eva pernah bertanya jalan alternatif ke kak Alex (suami Uni Eva). Kami disarankan untuk mencoba jalan ini. dari jembatan Ampera terus saja samapai ketemu Hypermart dan terus saja sampai jalan mentok (pertigaan) dan kami disarankan belok kanan. Tapi berdasarkan Gogle Map saya bisa mengambil jalur lain.
Jalur alternatif
Jalur yang saya ambil itu adalah jalur yang berwarna biru sedangkan jalur saya datang ke Palembang adalah berwarna Kuning. Memang konisi jalan tidak jauh berbeda tapi agak sedikit lebih baik jalur alternatif yang saya pilih, karena jalannya tidak terlalu rusak (walau ada juga yang rusak), jalannya relatif sepi bahkan kadang menyeramkan. Bisa dibayangkan Cuma beberapa kilometer dari Palembang kita akan disuguhi jalan tanpa rumah dan penerangan sama sekali, total gelap gilita kecuali lampu mobil. Sesekali ada pemotor yang lewat yang membawa side box tradisional alias tempat jualan.
Side box Biker

Sepertinya mereka adalah para pedagang yang akan berjualan. Banyak sekali kami bertemu dengan pemotor seperti ini selama kami diperjalanan menuju Kayu Agung.
Pemandanganpun selama perjalanan cukup menarik. Kadang kami melihat sungai dan rumah dipinggir sungai. Rumah tradisional Sumatera Selatan. Pemandangan yang indah ini kadang dirusak oleh salah satu parpol yang memasang warna mencolok di sekolah dan gedung-gedung pemerintahan.

Jalur yang kami pilih ini lumayan cepat dibanding jalu kedatangan kami ke Palembang sekitar 1 jam-an. Dijalur ini tidak kami temukan truk besar sama sekali.
Sekitar jam 7pagi kami sampai di Kayu Agung dan kami langsung mencari SPBU untuk beristirahat. Selang tidak berapa lama kami menemukan sebuah SPBU yang mempunyai parkiran yang besar. Saya langsung masuk kedalam area parkir SPBU tersebut. Sebagian anggota team saya langsung menuju kamar kecil termasuk saya. Kamar mandinya lumayan bersih dan terawat.
Selesai buang air, kami semua melanjutkan sarapan pagi dengan menu Pop Mie (hehehe). Kali ini saya langsung makan dua buah Pop Mie. Sekitar 30 menit kami beristirahat disana.
Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami Tugu Mulyo dan Mesuji di wilayah Sumatera Selatan. Behubung waktu masih siang hari. Dan kondisi saya masih fit. saya sangat memperhatikan jalan jadi menjelang jalan jelek saya selalu mengerem dan hanya beberapa kali menghantam lobang.

Kondisi jalan




Banyak rumah ada tempat ibadahnya

Kondisi Jalan





Selama diperjalan di daerah Mesuji beberapa kali kami menemukan Razia kendaraan tapi sepertinya ini ditujukan kepada kendaraan truk. Kendaraan kami tidak pernah dihentikan oleh polisi hanya dilihat saja dengan pandangan tajam.  Lokasi razianya pun di tengah kebun karet atau ditengah hutan gitu. Jadi tidak disangka-sangka posisinya.
Perjalanan kami teruskan didaerah Lampung memasuki Mesuji – Tulang bawang – Seputih Banyak. Kami memasuki Seputih Bsekitar jam 13.00 siang. Kami menemukan sebuah Mesjid yang likasi parkirnya lumayan luas dan bisa dijadikan tempat makan siang. Sebagian anggota melaksanakan sholat zhuhur dan Ashar yang dijama’ dan sebagian makan siang. Saya memberikan waktu satu jam bagi Bunda, Nenek, Umi dll untuk melaksanakan Isoma biar kita on time.
Mesjid kami beristirahat sewaktu pulang ke Jakarta

Selesai melaksanakan isoma kami melanjukan perjalanan menuju Sukadana dimana kami sewaktu keberangkatan melaksanakan sholat Zhuhur disana. Sekitar jam 14.30 kami melewati Sukadana.
Mesjid di Sukadana
Perjalanan kami teruskan ke Way Jepara, karena kami ingin menyeberang diwaktu matahari masih terang, biar anak-anak bisa menikmati perjalanan diatas kapal.

Kami sampai di bakaheuni sekitar jam 17.00 sore. Kami langsung masuk dan membayar untuk masuk kapal. Disini mulai timbul masalah. Kami tidak tahu dermaga mana yang sedang loading. Jadi kami mulai berputar-putar mencari dermaga yang cepat bisa menganggkut kami ke kapal. Ada beberapa mobil yang kondisinya sama seperti kami yang berputar-puatr mencari kapal. Dari dermaga 1 saya pindah ke dermaga 3 terus balik ke dermaga 2 akhirnya ke dermaga 5.
Pada jam 18.30. baru kendaraan diperbolehkan masuk kedalama kapal. Dan ini juga berlangsung lama sekali samapai pintu kapal ditutup dan kapal mulai berjalan. Pada awalnya saya berpikir kapal ini termasuk yang lumayan cepat tapi saya salah. Kapal ini sangat lambat sekali, mulai dari anak kami semangat sampai mereka kelelahan kapal belum juga sampai ke merak. Bahkan sempat kapal ini berhenti dahulu dilau dan saya juga sempat tertidur dimobil.
Jam 11 malam kendaraan kami mendarat di bumi jawa. Dengan bermodalkan penerangan dari 1 buah Headlamp dan 2 foglamp kami pun berkendara pulang. Mulai dari Merak – Cilegon – Serang – Cikupa- tangerang. Jalan dalam kondisi lancar kadang ada truk yang mengambil jalur tengah alias jalur cepat.
Sewaktu akan masuk ke tol dalam kota di kebun Jeruk kami dikepung oleh pasukan truk yang akan masuk melewati tol dalam kota. Terpaksa  kami masuk tol melwati pintu tol grogol. Dan pada jam 01.20 kamipun sampai dirumah dengan selamat. Sampai jumpa diperjalanan kami selanjutnya. Alhamdulillah

Catatan tambahan ;
Jarak tempuh total :   km
Total bahan bakar :
Konsumsi bahan bakar :
Tol :















































Wednesday, February 5, 2014

Mudik ke Bukittinggi 2013

Lebaran tahun ini kami memutuskan untuk mudik ke padang, kampong halaman kami sekeluarga. Aku berasal dari Bukittinggi tepatnya 7 km dari kota bukittinggi, sebuah desa yang masih hijau dengan hamparan sawah-sawah yang luas dan dikelilingi oleh bukit barisan serta dua gunung marapi – singgalang yang menambah kerinduan akan tanah kelahiran. Suami berasal dari Lubuk alung Pariaman tetapi sudah lama menetap di kota Padang.

Lebaran kali ini sudah kami rencanakan dari jauh hari sebelumnya, sudah lama sekali kami tidak merayakan idul fitri di kampung, meskipun hampir setiap tahun kami masih sempat pulang kampong tetapi bukan di saat Idul Fitri. Biasanya kami memilih liburan akhir tahun atau pertengahan tahun. Beberapa tahun terakhir ini kami selalu berlebaran di Jakarta atau di cilegon di rumah adik ipar. Tahun ini kami merencanakan mudik lewat jalur darat. Sudah lama sekali si Ayah berkeinginan touring melintasi pulau sumatera, dulu waktu masih sering ngumpul dengan komunitas motornya keinginan touring ke sumatera belum kesampaian. Dengan berbagai pertimbangan lain disamping juga ingin menguji ketangguhan Suzuki ertiga yang baru 2 bulan kami miliki akhirnya kami berangkat mudik malam 2 Agustus 2013.

Hari jumat tanggal 2 Agustus 2013, tepatnya hari terakhir kerja sebagian besar kantor di Jakarta dipilih untuk start mudik kali ini. Sesuai dengan pertimbangan ayah sebagai supir tunggal kami, melalui serangkaian perdebatan antara ayah dan bunda akhirnya kami memutuskan untuk berangkat langsung sepulang bunda bekerja dengan kata lain bunda tidak diijinkan pulang ke rumah dulu melainkan langsung diculik sepulang kerja. Semua persiapan mudik dilakukan malam sebelum berangkat, semua koper yang berisi perlengkapan kami selama di kampong serta sedikit oleh-oleh untuk keluarga sudah siap untuk di angkut. Selanjutnya persiapan di hari H keberangkatan menjadi tanggung jawab si Ayah yang sudah terlebih dahulu cuti dari pekerjaannya. Ayah dan duo AzBil berangkat dari rumah sekitar jam 3 sore menuju kantor ayah di daerah pulomas, tempat ini disepakati sebagai meeting point kami sebelum berangkat. Bunda dan juga uncu (adik laki-laki bunda) yang juga ikut kami mudik bersama harus sampai di kantor ayah sebelum waktu berbuka puasa, itu ultimatum ayah kepada kami.  Jadilah sore itu jam 5 tepat bunda langsung cabut dari kantor.

Dari kantor bunda yang berlokasi di Cikini bunda naik metromini sampai daerah kramat sentiong selanjutnya memilih naik ojek melewati daerah johar baru dan cempaka putih agar secepatnya sampai di kantor ayah. Daerah yang bunda lalui cukup macet di waktu sore terlebih lagi karena mendekati waktu berbuka puasa, banyak gerobak penjual menu berbuka puasa di sepanjang jalan. Sepanjang perjalanan dengan ojek bunda harus tetap berkomunikasi dengan uncu menanyakan sudah sampai dimana dan jangan sampai telat sampai kantor ayah, maklum uncu bekerja di daerah bogor lumayan jauh dari Jakarta belum lagi kalau macet di tol. Ayah juga tidak henti-hentinya menanyakan keberadaan bunda, sepertinya ayah sudah tidak sabar lagi untuk memulai perjalanan ini. Pertimbangan ayah adalah disaat orang-orang baru pulang kantor kami harus curi start untuk mudik. Karena sebagaimana tahun-tahun sebelumnya tol Jakarta merak sampai penyeberangan  ke sumatera selalu macet parah di musim mudik begini, “jangan tunggu lebih malam lagi apalagi besok pagi, kalau kita tidak ingin terjebak macet” itu slogan yang selalu di ucapkan ayah kepada kami. Baiklah kami semua harus patuh kepada komandan kalau ingin ikut pulang kampung.

Sesampai bunda di kantor ayah, bunda disambut senyum ceria Ami dan Kakak, kelihatannya mereka berdua pun sudah tidak sabar untuk pulang ke tanah leluhur mereka. Terutama Ami (Ami panggilan kesayangan buat Nabil, anak laki-laki kami) karena kebetulan Nabil lahir di Jakarta dan belum pernah pulang ke padang. Sambil menunggu kedatangan uncu, ayah dan bunda sholat magrib bergantian di masjid kantor ayah. Setelah akhirnya uncu sampai dan bertemu kami, ayah memutuskan untuk langsung berangkat. Ajakan bunda untuk berbuka puasa dulu tidak dikabulkan ayah, terpaksalah kami berbuka di mobil  dengan bekal yang dibawa dari rumah sisa ayam bakar sahur yang memang sudah bunda siapkan tadi pagi.

Tepat jam 07.00 pm dengan mengucapkan Bismillah dan doa melakukan perjalanan yang dilafalkan oleh kakak, kami memulai perjalan yang lumayan jauh ini, bahkan ini adalah perjalanan terjauh kami sekeluarga. Jalanan di depan kantor ayah  cukup macet begitu juga dengan tol menuju cawang, akhirnya kami memutuskan untuk menuju tol bandara lewat tanjung priok, sesampai di daerah kamal kami mengambil tol lingkar luar menuju tol Jakarta – Merak. Ternyata rute yang kami tempuh sangat tepat, jalanan ramai lancar, tidak kami temui kemacetan berarti sampai di pelabuhan penyeberangan merak. Kakak duduk di seat tengah dengan uncu sementara itu Ami duduk di pangkuan bunda di depan. Di sepanjang perjalanan Jakarta – Merak kakak dan uncu lebih banyak tidur di bangku belakang. Ami pun tertidur pulas di pangkuan bunda, bunda mencoba menahan kantuk agar tetap bisa menemani ayah walaupun sesekali bunda pun ikut tertidur. Sebelum sampai di pelabuhan Merak kami sempat berhenti di sebuah SPBU untuk membetulkan barang-barang di bagasi, ternyata ayah tidak menata rapih barang-barang yang dibawa, bunda jadi bingung sendiri, tapi ya sudahlah tetap enjoy dengan kondisi ini antusias untuk menempuh perjalanan perdana ini mengalahkan segalanya.

Kami sampai di pelabuhan merak sekitar jam 10 malam, masuk pelabuhan masih cukup lancar, setelah membayar tiket masuk kami dipandu oleh petugas pelabuhan untuk antri di salah satu dermaga menunggu kapal yang akan sandar. Ada suasana khas bunda rasakan di sana, Pemandangan lautan yang kelam bertabur lampu – lampu kapal, sesekali terdengar terompet kapal yang akan sandar, kendaraan berjejer antri menunggu giliran mereka untuk naik kapal, beberapa pengendara dan penumpang terlihat keluar dari kendaraan mereka sedikit melepas penat akibat duduk lama di mobil. Sembari merokok dan ngobrol mengusir bosan menunggu. Penjual makanan pun tidak mau melewatkan kesempatan untuk menjajakan dagangannya di balik kaca mobil. Rata-rata mereka menjual mie instan dalam cup dan kopi instan yang di seduh di gelas plastik.

Sambil menunggu antrian bunda juga menyeduh cup mie yang juga kami bawa sebagai bekal untuk ayah, ayah makan dengan lahapnya karena dari berbuka puasa ayah cuman minum air putih dan biscuit. Mmmhh….perjalanan baru akan dimulai fikir bunda. Setidaknya ayah bisa istirahat beberapa saat selama di atas kapal.

Tidak begitu lama menunggu kami diinstruksikan petugas pelabuhan untuk menaiki kapal, semua kendaraan roda 4 antri dengan tertib masuk melalui tanjakan ramp menuju lambung kapal. Sesuai arahan petugas di kapal mobil kami parkir persis di samping ramp sehingga lumayan ada ruang bebas di sisi kanan mobil. Sesampai di dalam kapal ayah memutuskan untuk tetap di mobil, “mau tiduran sejenak sambil jagain mobil” kata ayah. Bunda dan anak-anak ditemani uncu berniat untuk naik ke atas, tujuan utama bunda adalah geladak kapal. Di samping tujuan agar anak-anak tidak bosen berada di mobil bunda juga tidak mau melewatkan kesempatan memandangi langit malam di tengah lautan pasti sangat mengesankan fikir bunda, ditambah lagi saat itu pertengahan tahun musim kemarau langit pasti akan bersih dari awan kalau beruntung bunda bisa menunjukan selempang milkyway pada kakak dan Ami, pengalaman sangat menyenangkan buat mereka. 

Tapi ternyata tidak seperti harapan bunda, geladak penuh sesak kami tidak kebagian tempat untuk duduk dengan nyaman. Dengan beralaskan Koran kami bisa duduk di salah satu sisi kapal, kakak dan nabil penasaran memandangi laut lepas, kilauan lampu kapal terlihat seperti batu permata. Ini adalah pengalaman pertama anak-anak naik kapal begitu juga bunda. Walaupun cuman kapal penyeberangan dengan fasilitas yang sangat minim, mereka sangat menikmatinya. Tidak beberapa lama ayah menyusul kami ke geladak, kelihatannya ayah juga bosen sendirian berada di mobil, beberapa saat kami menikmati pemandangan di atas kapal, tapi lama –lama kami merasa tidak nyaman karena posisi kami duduk berada di sisi cerobong kapal sehingga aroma asap sangat menyengat hidung serta angin malam yang cukup dingin takut nanti anak-anak masuk angin, ditambah lagi pandangan ke langit juga tidak maksimal karena lampu di geladak yang sangat terang sehingga menyilaukan mata, padahal saat itu langit sangat cerah dan banyak bintang terang bertaburan. Saat itu bunda sempat menunjukan bintang antares di konstelasi scorpius kepada kakak, akkhhh…kalau saja kapal ini benar-benar gelap pastilah disekitar sana akan terlihat awan berpendar milkyway seperti yang sering bunda saksikan waktu kecil di kampong dulu. Pasti kakak akan senang sekali begitu juga Ami, walaupun belum paham yang dia lihat itu apa. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke mobil dan menunggu di mobil sampai kapal merapat di pelabuhan bakaheuni lampung.

Perlahan-lahan kapal merapat ke dermaga, para penumpang pun mulai bersiap-siap menuju mobil atau bus masing-masing. Setelah kapal betul-betul sandar di dermaga dan pintu untuk kendaraan dibuka, perlahan-lahan dengan tertib  semua mobil mulai keluar dari kapal menuju pelabuhan.

“Welcome to sumatera” itulah yang ada dalam fikiran bunda, sudah lebih dari dua tahun bunda tidak pulang kampong, meskipun masih jauh dari tanah kelahiran tapi setidaknya kami sudah berada di daratan sumatera. Daratan yang identik dengan hutan belantara bagi sebagian orang tetapi tanah yang selalu dirindukan bagi perantau seperti kami. Kami sampai di bakaheuni sekitar jam 02.30 dini hari. Keluar dari pelabuhan ayah langsung memacu laju mobil sepertinya ayah punya energy baru setelah beristirahat di kapal. Melewati jalan yang sedikit menanjak  dari pelabuhan bakaheuni kami memutuskan untuk melewati jalur tengah yang lebih dikenal dengan Jl. Lintas sumatera. Kota pertama yang akan menjadi destinasi kami adalah kota kotabumi. Menyusuri jalan-jalan sumatera yang panjang seolah tiada habisnya kami melewati pinggiran kota Bandar lampung tetapi tidak melewati kotanya, jalan raya di daerah lampung ini cukup lebar tetapi di beberapa tempat rusak dan berbatu. Menjelang waktu subuh kami memutuskan untuk berhenti dan istirahat sejenak di sebuah SPBU, di sana juga banyak para pemudik yang beristirahat, ada yang rombongan kovoi beberapa kendaraan ada juga single fighter seperti kami. Azra dan Nabil berlarian dengan riang setelah puas tidur dari turun kapal, ayah tiduran sejenak di dalam mobil. Setelah bersih-bersih Nabil dan Azra serta sholat subuh bergantian, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Rute menuju kota bumi di dominasi jalan-jalan lurus dan sedikit berbatu, di sisi jalan kombinasi antara perkampungan penduduk dan kebun kelapa sawit, sesekali kami juga melewati jembatan yang menyeberangi sungai –sungai yang cukup besar.  Suasana subuh menjelang pagi terasa sejuk, dari timur terlihat fajar menyingsing indah sekali langit pagi itu. Ayah menyetir dengan semangat bebas memacu laju mobil hal yang mungkin tidak akan pernah ditemukan di jakarta, jalanan pagi itu cukup sepi  di jalananan kebanyakan ditemukan mobil sesama pemudik yang kebanyakan bernopol B, beberapa truk barang dan sesekali motor penduduk setempat. Nah untuk yang terakhir ini sepertinya hal yang harus diwaspadai kalau melewati jalan lintas sumatera karena banyak sekali motor penduduk setempat yang tiba-tiba muncul dan pengendaranya pun bernyali tinggi, berani nyalip sana sini tidak pakai helm pula. Pagi itu kami kebetulan juga menyaksikan kecelakaan sepertinya tabrak lari seorang pengendara motor  tertabrak hingga tewas, jasadnya pun masih ada di tengah jalan ditutupi kertas koran dan dedaunan saat kami lewat namun polisi dan penduduk sudah ramai di lokasi kejadian. Syerem banget pagi-pagi udah nyaksiin kejadian yang mengenaskan, semoga ayah lebih berhati-hati berkendara, doa bunda dalam hati.

Ayah yang melanjutkan cerita.

Pada perjalanan ini kami menggunakan GPS Garmin Nuvi 50LM yang kami dapat dari dealer sewaktu membeli neng Erti. Tapi sayangnya untuk GPS ini tidak bisa diset langsung tujuan akhirnya di Padang. Kami harus mengatur destinasinya per kota. Jadi kalau sudah sampai ke kota ini maka kita harus melihat peta dulu untu mengatur destinasi berikutnya.

Perjalanan kami lanjutkan melewati perkampungan, hutan dan ilalang. Kondisi jalanpun sudah lumayan bagus dibandingkan dengan jalan didaerah sebelumnya. Kami melewati Metro – bandar jaya – Tebangi besar – kota Bumi –Bukit kemuning – martapura. Di Kotabumi kami mengisi bensin untuk kendaraan yang kami tumpangi disalah satu SPBU di jalan Lintas tengah Sumatra ini. Kemudian kami melanjutkan perhjalanan tidak lama berselang. Dimarta pura saya melihat satu rumah makan yang biasa saya singgahi sewaktu naik Bus dulu. Kami pun berhenti untuk membeli air panas untuk membuat susu Azra dan Ami. Berhubung kami sedang diperjalanan kami tidak melakukan ibadah puasa (ampunilah hambamu ini ya Allah), sehingga kami melakukan sarapan pagi.

Sekitar jam 12 kami sampai didaerah Baturaja setelah melewati bukit Kemuning – Martapura. Disini kami berhenti disalah satu SPBU besar  yang ada dipinggir jalan. Di SPBU ini juga tersedia sebuah toserba dan Hotel buat menginap yang bernama Hotel Bukit Indah Lestari. Hotel ini berdiri diatas sebuah bukit memang makanya mungkin namanya seperti itu. Terlihat dari luar hotel ini cukup bagus. Sekitar 30 menit kami berhenti di SPBU ini dan kami melanjutkan perjalanan kami.

Dalam perjalanan Azra, Ami, Bunda dan Uncu terus bergantian tidur. Sedangkan saya hanya bisa melihat mereka tidur. Saya hanya ditemani alunan musik dari MP3 yang telah saya sediakan. Kadang kala bunda Uncu bangun tapi lebih sering tidur sih. Sedangkan saya tetap semangat soalnya inilah impian saya dari dulu. Ingin sekali turing kekampung, tapi dulu impiannya dengan motor. Walau dengan motor tidak jadi dengan mobilpun tidak apa. Azra dan Ami lebih konstan tidurnya soalnya dari semalam mereka berdua terus bergadang.

Perjalanan dari Baturaja menuju ke Lubuk Linggau tempat dimana kami akan menginap nantinya jalannya bervariasi. Dari jalan lurus hingga berkelok-kelok. Naik turun, bagus kadang jelek. Kita harus waspada dalam mengendarai kendaraan. Sebagian besar jalan disumatera selatan jalannya agak sempit. Jadi untuk over taking agak susah. Sugih waras – Muara Enim kami lalui dengan waspada hehehe. Soalnya banyak cerita yang kami dengar mengenai daerah ini. Kami berusaha menempel iring-iringan kendaraan sehingga terlihat kami sedang melakukan konvoi padahal saya sekeluarga Cuma 1 mobil dan mobil yang lain entah mobil siapa. Yang penting kami semua aman sampai tujuan. Dalam perjalanan kami banyak sekali bertemu dengan bayank ekndaraan dengan plat nomor B atau yang lain yang berasal dari Jawa.

Sesampainya kami di Muara Enim Ami mulai terlihat berlaku aneh dan gelisah. Kami sekeluarga tidak menyadari kalau dia sedang merasakan mual. Tidak lama berselang tepat di kota Muara Enim, Ami muntah banyak sekali seperti air pemadam kebakaran. Semburannya kencang sekali dan bau muntahnya asem sekali. Baju bunda sangat kotor kena muntah ami.  bunda kemudian mengganti pakaian disebuah Mushalla ynag ada disekitar kami berhenti. Kendraan yang kami tumpangi pun baunya jadi asem banget.

Hari sudah sore, kami berembuk mau menginap dimana. Ya udah terusin saja. Soalnya masih belum gelap ini. Kami meneruskan perjalanan melewati Lawat – Tebing Tinggi – Muara Beliti – Lubuk Linggau. Sampai di Linggau hari sudah gelap kami memutuskan kalau kami akan menginap disini saja. Kami mulai mencari hotel dan akhirnya kami menemukan Hotel yang lumayan bagus dengan rate 400rb-an yang bernama Hotel Abadi. Hotel ini terdiri beberapa lantai dan didepannya ada sebuah toserba. Bunda langsung bertanya ke staff hotel dan Alhamdulillah kami mendapatkan kamar. Kami langsung masuk kekamar setelah memarkirkan kendaraan dibawah.

Uncu, Azra dan ami dikamar
Saya, Bunda, Uncu, azra dan Ami akan menginap didalam satu kamar saja. Kita berdesak-desakan saja dalam satu kamar. Ami dan azra sangat senang sekali menginap disini. Karena inilah kali pertama mereka menginap dihotel. Untuk makan malam Bunda membeli nasi bungkus yang kana kami makan di kamar. Saya sendiri tidak mampu lagi berjalan keluar untuk makan malam, setelah 24 jam berkendara. Memang sih setiap 3-4 jam kami berhenti. Tapi tetap rasa capek itu terasa. Selesai makan malam, saya langsung tertidur. Begitu juga anak-anak, tapi bunda masih mempersiapkan segala sesuatunya untuk besok. Bunda juga membeli nasi bungkus buat uncu yang katanya esok hari akan puasa.

Waktu sahur bunda dan Azra turun kebawah untukmelakukan sahur. Kata bunda menunya biasa saja. Ya iyalah jarang yang enak sarapan dihotel kata saya. Bunda, Ami, azra, Uncu dan saya bergantian mandi pagi. Untungnya dihotel ini disediakan air panas untuk mandi penghuninya. Ami dan Azra bisa mandi pagi.
Tepat jam 7 pagi kami meninggalkan hotel untuk melanjutkan perjalanan ke Padang. Tapi sebelum berangkat kami harus menunggu pemilik mobil yang mobilnya menutupi mobil kami. Tapi hanya sebentar karena para pemudik yang lainpun sudah stand by akan melanjut perjalanan ke kampung masing-masing.

Kondisi jalan

Kondis jalan

Azra sarapan pagi

Jalan dari Lubuk Linggau menuju Padang. Sangat menantang untuk tes speed. Jalannya Lurus dan lebar dan diselingingi dengan tanjakan dan turunan. Kita harus tetap waspada dalam berkendara. Saya pikir pasti kami cepat sampai nih. Ternyata jarak satu kota dengan kota lainnya lumayan jauh. Suka menang – muara Rupit –Surolangun – Bangko – Muara kempu – Sungai Dareh. Saya sangt ingin sekali menikmati istirahat siang di daerah Gunung medan yang biasanya Bus-Bus ke jakarta berhenti dan istirahat disini. Tapi pada musim mudik ternyata rumah makan ini sangat penuh sekali dipenuhi oleh para pemudik terutama dari Jakarta. Saya memutuskan untuk mencari lokasi lain untuk istirahat.

Tidak terasa kota demi kota kami lewati sore harinya kami sudah sampai di kota Solok. Kamipun meneruskan perjalanan menuju Bukittinggi melewati Danau Singkarak yang terkenal dengan ikan bilih dan Padang panjang. Setibanya di danau Singkarak kami mencari spot untuk istirahat karena Azra mau buang air kecil dan saya sendiri mau makan siang (what tidak puasa lagi). Kali ini saya memesan nasi cancang. Tenyata rasa dan kualitas cancang di disini sangat jauh sekali rasanya dengan yang di jakarta. Kalau diJakarta hannya jeroan sedangkan kalau di sini memang daging. Sehingga harganya pun memang mahal. Untuk cancangnya saja diharga 25rb. Kalau di jakarta bisa 7rb tapi hanya jeroan. Rasanya pun sangat enak sekali.

Azra in action 

Ami in action
Saya makan siang menjelang sore di pinggir danau Singkarak. Tidak lupa Pula Azra dan Ami berfoto-foto ria disini. Tidak lama berselang kami selesai makan. Kami kemudian melanjutkan perjalanan kami, melewati Danau Singkarak, persawahan. Menjelang masuk ke kota Padang Panjang bunda mengatakan bahwa ada jalan pintas menuju Bukittinggi tanpa melewati kota Padang Panjang. Katanya lebih singkat dan tidak macet, maklum pada bulan puasa ini orang semua akan keluar mencari makanan.

Memang ternyata memang jalan ini lebih singkat dan tidak macet dan kondisi kota Bukittinggi pun ternyata sedang tidak macet. Menjelang kami memasuki Bukittinggi suara Azan terdengar dan Tidak lama berselang kami pun sampai ditujuan. Alhamdulillah.

Foto – Foto selama Dikampung

Ami dan Ayah di Lembah Anai

Azra baru bangun

Foto lebaran


Istirahat dulu

Gunung apa ya ini

Geng Bocah

Geng Bocah 2

Sate mantap mak nyussssss

Kumpul keluarga

Makan Malam Itik cabe hijau super pedas

Ami dan Azra

Foto diwaktu subuh di Jam Gadang
 Foto-Foto Perjalanan Pulang ke Jakarta
Kabut di pagi hari

Pagi hari yang cerah


Jalan yang lurus di Bungo-Linggau

Kondisi jalan

Bukit Jempol sayang habis hujan

Didalam kamar Hotel Bukit Indah Lestari Baturaja

Jalan di Lampung

mau mauk ke dermaga

Gerbang Pelabuhan Bakaheuni

Diatas kapal