Mudik Bareng RTS 2019 (Jalur Lintas Barat Sumatra)

4:08:00 PM


Tidak terasa sudah hampir setahun kami mudik balik ke kampung halaman di Sumatera Bara. Kampung halaman kami berdua saya dan bunda yang berasal dari Sumatera Barat bunda berasal dari Bukittinggi sedangkan saya berasal dari Pariaman.

Entah mengapa belakangan ini saya malas menulis blog yang saya kelola walaupun sebenarnya ada beberapa topik yang ingin saya tuliskan di halaman blog saya ini. Akan tetapi rasa malas itu selalu muncul.

Dengan semakin dekatnya musim mudik tahun ini,  semangat untuk menulis blog kembali menggelora (malesnya setahun bro....). Untuk itu saya kembali mencoba mengingat perjalanan kami yang sudah hampir setahun berlalu, dan akan saya tuliskan di dalam blog saya ini eh blog keluarga cuy hehehehe.

Untuk persiapan mudik, ceritanya saya persingkat saja. Semua barang-barang yang yang akan kami bawa telah kami persiapkan. Baik itu pakaian, menu makanan, snack buat anak, P3K dan telah kami packing dan menjelang mudik. Hampir setiap malam kami melakukan meeting koordinasi antar peserta mudik keluarga  yang terdiri atas saya sendiri, bunda, Azra dan Nabil. Setiap meeting kami terus mematangkan persiapan untuk melakukan mudik. Padahal ini mudik ke tujuh kalinya kami melewati jalur darat.

Sedangkan persiapan di grup mudik Road to Sumatra juga telah melakukan persiapan matang diantaranya membuat atau membagi kepulangan peserta berdasarkan hari dan kemudian membeli membuat grup kecil yang terdiri atas member yang akan pulang pada hari yang sama. Sehingga mereka bisa berkreasi sendiri diantara mereka selama mudiknya. Kami tidak lupa membuat kaos mudik dan juga stiker mudik yang nantinya akan dipasang pada kendaraan peserta mudik bareng sehingga di perjalanan kami akan saling bertegur sapa jika bertemu.
Stiker depan

nomor depan

Nomor dibelakang
Untuk pembagian stiker dan kaos mudik jadi dilakukan di saat kopdar bulan puasa yang seperti biasa dilakukan di Taman mini. Rencana awalnya kopdar dilakukan pada pagi hari akan tetapi akan permintaan dari anggota yang lain kopdar dilakukan pada sore hari dan sekaligus untuk berbuka bersama bersama anggota di Taman mini. Untuk menu makanan para peserta membawa menu masing-masing.

Akhirnya pada tanggal 29 Mei hari yang kami sekeluarga tunggu-tunggu di mana kami akan menjajal tanah Sumatera lewat jalur darat. Pada malam sebelumnya kami telah mempersiapkan bahwa semua barang yang akan dibawa dan diletakkan di depan pintu. Keesokan harinya saya tinggal memasukkannya aja ke dalam mobil. Untuk barang-barang yang masuk ke dalam roofbox saya sudah masukkan terlebih dahulu, karena biasanya barang-barang tersebut tidak akan dibongkar selama perjalanan.  Hanya yang barang-barang yang ada di dalam mobil saja yang akan aktif pergerakannya. Sedangkan untuk pemilihan barang yang akan diletakkan di atas box. Biasanya dipilih barang yang makan tempat, akan tetapi mempunyai bobot yang ringan.
Siap-siap dulu malamnya
Setelah kami melaksanakan sahur bersama terakhir di kota Bekasi.  Keluarga kami  langsung bergerak untuk menuju  bandara Soekarno-Hatta untuk mengantarkan nenek dan Uncu menuju ke bandara. Mereka berdua akan melakukan perjalanan mudik dengan menggunakan armada pesawat udara, sedangkan kami menggunakan jalur darat. Hal ini disebabkan,  nenek sudah tidak mampu lagi melakukan perjalanan jauh dengan menggunakan mobil sehingga mereka berdua mudik dengan menggunakan pesawat udara.

Sementara itu kami menunggu bertiga di dalam mobil. Mendekati jam 7 pagi semua proses check-in nenek dan Uncu selesai dan bunda telah kembali ke mobil ,sehingga kami pun bisa bergegas untuk kembali ke rumah untuk bersiap-siap melakukan perjalanan jauh.

Kami sampai di rumah pada jam mendekati jam 8 pagi. Saya memasukkan barang-barang yang akan kami bawa ke dalam mobil dan menyusun dengan rapi. Setelah proses memasukkan barang selesai, saya masuk ke kamar untuk beristirahat sebelum nantinya akan berkendara full layaknya supir bus di jalan Sumatera.

Pada jam 10 pagi saya bangun dari tidur sedangkan bunda masih sibuk dengan urusan daput dan anak-anak masih menikmati libur dirumah. Selesai mandi, kami bersiap-siap untuk meninggalkan rumah. Kami bertiga perempat meninggalkan rumah pada jam 10.30 pagi hari untuk bertemu dengan rekan mudik bareng Road to Sumatra (RTS) yang berkumpul di rest area KM 68 to Jakarta Merak.

Kami akan mengambil jalur yang sama seperti jalur mudik kami tahun lalu yaitu menggunakan jalur lintas barat sedangkan untuk anggota mudik bareng jalur lintas barat kali ini jumlahnya memang sedikit berkurang dari pada tahun lalu yang berjumlah 20 orang tahu untuk tahun ini jumlah kami hanya sekitar 16 kendaraan. Total peserta mudik bareng grup RTS ada 90an kendaraan terbagi atas 3 jalur mudik disumatra yaitu lintas Timur, lintas Tengah dan Barat.

Akan tetapi kami mengharapkan lebih terkoordinasi lagi perjalanan mudik kali ini. Sebelum memulai perjalanan kami melihat terlebih dahulu kondisi lalu lintas untuk menuju ke titik kumpul kami yang berada di KM 68 jalan tol jakarta-merak. di dalam tol dalam kota  jakarta terpantau kondisi lalu lintas yang macet. Sehingga kami memutuskan untuk menggunakan jalur yang sedikit memutar yaitu melewati jalan tol JORR dan nanti tembusnya ke Tol Ancol dan terus ke tol Puri dan akhirnya juga masuk ke tol Jakarta merak di KM 10.

Perjalanan yang memutar ini memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalanan yang tidak macet akan tetapi karena jalanan yang jauh. Kami sekeluarga sampai di rest area km 68 pada jam 12.30 siang hari tepat setelah masuk ibadah salat zuhur.

Sementara itu didalam rest area sudah ada rekan yang lain telah berdatangan di  titik kumpul ini. Untuk titik kumpul ini merupakan titik kumpul dua rombongan untuk jalur lintas barat dan juga jalur lintas tengah yang berangkat pada hari itu.

Setelah beramah-tamah sebentar saya pun dan keluarga melaksanakan ibadah salat dzuhur dan kemudian melakukan briefing singkat kepada rekan-rekan yang akan melakukan perjalanan bersama. Untuk rekan-rekan yang menggunakan jalur lintas tengah berangkat sedikit agak lama dari pada kami. Tidak lupa doa bersama untuk menharapkan Ridho Allah. Pada tepat jam 1 siang langsung meninggalkan area pemberhentian untuk menuju ke pelabuhan merak. Adapun rekan-rekan RTS lintas Barat adalah :
  • Om Mahfud
  •  Om Jendra
  • Om Hendros
  • Om Fikri
  • Om Arief (fotografer RTS)
  • Om Wike
  • Om Anton
  • Om Sony
  • Om Febi
  • Om Fendi
  • Om Rio
  • Om Yandri
  • Om Safril
  • Om Doni
  • Om Abi
  •  Om Isra

Pada saat itu, kami masih berkumpul hanya 14 orang sedangkan Om Febi telah terlebih dahulu menuju merak dan akan menunggu kami di rest area jalan tol  Bakauheni Lampung. Sedangkan Fikri juga masih dalam perjalanan menuju rest area. Diharapkan bisa bergabung bersama kami di perjalanan, saat kami menuju ke pelabuhan Merak.
Foto-foto dulu sebelum berangkat
 Lima belas kendaraan sampai di pelabuhan merak pada jam 2 siang dan langsung kami menyebar ke semua loket yang ada di pintu masuk pelabuhan Bakauheni Merak. Kali ini saya telah melakukan top up e-money, karena berdasarkan informasi pembelian tiket kapal sekarang sudah mengharuskan pembelian menggunakan e-money atau juga bisa melakukan pembelian dengan secara online.
Nunggu berangkat di KM 68

Om Arif in action (mobil RTS background)
Proses pembelian tiket tidak berlangsung lama, karena prosesnya sudah lebih baik daripada tahun sebelumnya. Kami bisa langsung menuju ke dalam pelabuhan sambil menunggu rekan-rekan yang lain yang akan selesai pembelian tiket. Ternyata oh ternyata di gerbang masuk om Jendra tertahan, akibat ketidaksiapan para petugas pelabuhan dalam pembelian tiket melalui secara online. Maksud hati ingin mempersingkat waktu dengan membeli tiket secara online akan tetapi pada kenyataan di lapangan berbeda. Akhirnya om Jendra yang paling terakhir yang kami tunggu.
Nunggu yang terjebak karena pembelian tiket online

setelah semua kendaraan berkumpul minus om Febi, kami langsung menuju ke dermaga 7 yaitu dermaga baru yang yang belum sepenuhnya selesai tapi sudah dipakai untuk melakukan bongkar muat kendaraan masuk ke dalam feri. Kami diarahkan oleh para petugas ke dermaga tersebut. Saya melihat posisi kapal yang masih terbuka. Pikiran bodoh saya berpikiran bahwa kami akan langsung masuk ke dalam kapal dan langsung berangkat menuju tanah Sumatra. Tetapi pikiran saya salah, kondisi kapal pada saat itu ternyata  sudah  siap untuk berangkat alias angkat jangkar.

Kami terpaksa untuk menunggu kapal berikutnya yang ternyata masih belum terlihat, sedangkan  pelabuhan pada saat itu sangat terik panasnya pollll.  Tidak bisa berlama-lama di luar kendaraan untuk mengambil foto karena panas yang sangat terik. Bisa batal puasa nanti bro. Pada saat itu kondisinya kami masih saat berpuasa.

Akhirnya kapal yang kami tunggu-tunggu mulai merapat dan pada jam 15.30 sore. Kami mulai melakukan proses naik kapal dan jam 4 sore kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan untuk menuju pelabuhan Bakauheni.

Ternyata kapal yang kami naiki tidak terlalu penuh bahkan bisa dikatakan kosong, soalnya bisa main bola. Kami pun bisa beristirahat dengan leluasa di geladak  kapal yang kosong. Tikar bisa digelar semaunya dan beristirahat.
Tepar

Tuh,.... kosong kan

Melihat laut

Bunda dan Nabil

Saya dan Nabil

Rest area RTS

Sore hari di bulan puasa
Seakan-akan kapal ini menjadi kapal pribadi RTS (ngayal). Kali ini saya tidak berminat mengambil banyak gambar karena sudah ada yang lebih ahli dari pada saya dalam pengambilan foto-foto yaitu om Arief yang membawa kamera DSLR.

Saya hanya menikmati perjalanan dan air udara laut dan juga beristirahat sambil tiduran di tikar sedangkan para peserta yang lain nikmati dengan caranya sendiri. Hembusan angin membuat mata ini menjadi berat. Emang sih akhirnya bisa tidur juga tapi kebangun karena panas mulai menyengat badan.

Pada jam 6 sore kapal kami mendarat di pelabuhan Bakauheni dan telah melakukan re-grouping. Kami masuk ke gerbang tol Bakauheni untuk menuju ke Bandar Lampung. Kami memutuskan untuk melakukan buka puasa di perjalanan saja dan untuk makan malam akan dilakukan di rumah makan Begadang 5 tempat meeting point kami selanjutnya.

Di dalam perjalanan ini yang bertugas menjadi road  captain adalah om Jendera dan di belakangnya ada Mahfud. Sedangkan pada anggota lain mengekor dengan rapi di belakang kedua orang ini. Sedangkan yang bertugas menutup jalan adalah om Yandri dengan badak putihnya.

Kami tidak memacu kendaraan dengan terlalu kencang, tapi cukup sesuai dengan kecepatan yang disarankan di jalan tol. Sayup-sayup  terdengar  dari hari radio kalau para peserta lain yang menggunakan jalur lintas  tengah juga telah mendarat di pelabuhan Bakauheni berarti mereka tidak jauh berada di belakang.

Om Yandri kemudian menghubungi om Febi untuk segera bisa bergabung bersama rombongan lintas barat  yanag beliau  telah terlebih dahulu mendarat dan menunggu kami di rest area di jalan tol.

Tidak lama kemudian om Febi telah masuk rombongan dan  bergabung bersama kami dan lengkapilah formasi penjelajah lintas Barat Sumatra dengan 16 kendaraan untuk menuju ke meeting point berikutnya yaitu Rumah makan Begadang V yang berada di kota Bandar Lampung.

Selepas membayar tol di gerbang tol (entah apa namanya) di kota Bandar Lampung langsung dihadiahi  dengan jalanan yang masih belum selesai atau bisa dikatakan rusak, serta banyaknya persimpangan menuju ke perkampungan warga. Ini salah satu yang menghambat perjalanan kami untuk menuju ke rumah makan tujuan. Akhirnya pada jam 19.30 sampai di rumah makan tersebut.

Nah……. kalau sudah sampai di rumah makan ini kegiatan acara bebas, yang mau salat bersih-bersih atau makan itu urusan masing-masing. Pokoknya diberikan waktu kurang lebih 1 jam untuk melakukan kegiatan itu semua.

Saya dan keluarga melaksanakan ibadah salat terlebih dahulu. Salat kami melaksanakan bergantian. Giliran pertama  saya dan Nabil, melaksanakan salat terlebih dahulu. Kemudian setelah kami selesai barulah bunda dan kakak melaksanakan salat setelah kami kembali ke mobil. Ini tidak lain untuk menjaga-jaga ada hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah melaksanakan ibadah sholat, kami langsung menikmati hidangan yang kami bawa dari rumah. Kebetulan mobil kami bersebelahan dengan om Mahfud yang juga menggelar hidangan yang di bawa dari rumah. Lumayan untuk menghemat pengeluaran hehehehe……

Padai jam 9 malam kami mulai melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan untuk ke tujuan  berikutnya yaitu di masjid Imanuddin yang berada di daerah Tanggamus Lampung.

Saya terlebih dahulu mengisi bahan bakar di SPBU yang ada di depan rumah makan ini. SPBU tempat kami mengisi bensin ini, sekarang menyedihkan kondisinya di bandingkan dengan kondisi yang saya temui setahun yang lalu. Pada saat saya melakukan mudik tahun 2018 kondisi SPBU ini masih terawat dan bisa dijadikan tempat istirahat. Sedangkan saat itu kondisinya  tidak terawat dan tidak rekomen untuk melakukan pengisian bahan bakar. Teman-teman saya yang lain telah terlebih dahulu mengisi bahan bakar di SPBU sebelumnya.

Setelah rombongan Berhasil di susun kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke bundaran Lampung yang dari sana kami ngambil ke arah kanan dan langsung berbelok ke kiri yang menuju ke jalan lintas barat tahun sebelumnya kami dari bundaran itu mengambil ke kiri ke arah kota bandar Lampung akan tetapi agak sedikit motor sehingga menghambat perjalanan kendaraan lain.

Perjalanan dari rumah makan begadang 5 menuju ke masjid Imaduddin itu berjarak kurang lebih sekitar 124 kilo meter dan kalau ditempuh dengan perjalanan mobil membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam berhubung pada saat itu waktu sudah malam sehingga kondisi lalu lintas sudah berkurang dan perjalanan kami tidak terlalu terhambat oleh kendaraan yang lainnya dengan kondisi lalu lintas atau kondisi jalannya nya dan kami menikmati sekali perjalanan malam ini kami tidak tergesa-gesa dalam mencapai meeting point tersebut sehingga untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya pada jam 12 malam kami sampai di di masjid yang kami tuju langsung saja 16 kendaraan parkir memenuhi area parkir masjid yang sebelumnya telah terisi sebagian oleh kendaraan pemudik lainnya 16 kendaraan ini membuat penuh lokasi parkir masjid dan ada sebagian kendaraan yang parkir di luar area masjid karena memang ini ada parkirnya sangat terbatas.

Yang menjadi hal yang menarik dari masjid ini yaitu lokasi masjid yang pas berada di pintu masuk hutan lindung atau Taman Nasional Bukit Barisan. Sehingga ini adalah lokasi perhentian terakhir sebelum kami masuk kedalam taman nasional dan di sini airnya sangat segar begitu dialirkan ke anggota tubuh dan terus mengalir tiada henti, karena memang tidak menggunakan keran. Air terus mengalir dari sumber alami, begitu juga dengan warung yang berada di seberang jalan mesjid ini. Terdapat sebuah keran yang terus terbuka 24 jam tanpa ditutup. Disini selain  air yang terasa segar sekali untuk mengambil wudhu dan juga melakukan salat dan setelah melakukan ibadah juga terdapat kopi gratis yang disediakan pengurus masjid untuk para pemudik. Kopi yang saya rasakan kemarin, sangat berbeda dengan kopi-kopi yang sebelumnya saya  coba, sehingga wajib dicoba untuk tahun depan.

Tidak lama kami beristirahat di sini kami langsung bergegas untuk melanjutkan perjalanan untuk menuju ke titik  berikutnya yaitu di SPBU di daerah Bangun Negara setelah kami meninggalkan masjid.

Ternyata di masjid Imaduddin, terjadi 1 insiden di mana om Wike ditinggal oleh rombongan besar, karena kami sendiri tidak menyadari kalau mereka sekeluarga tertinggal. Sedangkan om Wike ternyata telah menitip pesan kepada om Fikri, untuk dibangunkan kalau rombongan akan meninggalkan masjid.

Sementara itu kami telah meninggalkan mesin Imaduddin sedikit terhambat oleh karena adanya lewat yang menutupi ruas jalan yang lebarnya tidak terlalu lebar. Setelah melewati truk, kondisi jalan mulai lancar dan sepi karena memang di saat itu kami berada di dalam Taman Nasional Bukit Barisan.

Ternyata om Fikri lupa akan pesan tersebut dan om Wike yang  tertinggal sendirian di area masjid dan baru sadar telah ditinggal pada saat terbangun dan melihat di parkiran hanya mobil mereka yang terparkir dan segera ngebut mengejar rombongan yang telah berada di depan.

Dari cerita om Wike mereka berusaha memanggil-manggil beberapa lama dari radio komunikasi dan tidak ada respon. Sampai akhirnya diradio mereka menangkap pembicaraan rombongan besar. tidak berapa lama kemudian mereka juga bisa bergabung bersama kami masuk ke dalam rombongan.

Sepanjang jalan menuju SPBU di daerah Bangun negara kami praktis tidak banyak bertemu dengan kendaraan lain kecuali ada beberapa kendaraan yang terlihat seperti kendaraan travel yang jalannya kencang.

Perjalanan sepanjang 91 km kami tempuh kurang lebih 2 jam dan akhirnya kami berhasil mencapai SPBU tersebut pada jam 3 dini hari.

Kami melewati Taman Nasional bukit barisan dalam keadaan gelap gulita yang memang pada saat itu tengah malam dan lampu lampu mobil dari barisan konvoi kami membuat suasana gelap itu menjadi terang. Kami melewati Taman Nasional dengan aman dan  kami melewati di Bengkunat dan kemudian akhirnya kami sampai juga di di SPBU langganan kami tempat beristirahat di daerah Bangun Negara Krui.

Kondisi jalanan yang yang bagus dan juga lengang, bisa membuat kami lebih cepat dari rencana semula untuk mencapai tempat ini. Beberapa kendaraan lain ada yang mengisi bahan bakar, sedangkan yang lain memarkir kendaraan di area parkir untuk beristirahat. Saya sendiri berbincang-bincang dengan om Rio di di pintu keluar SPBU.

Saya melihat om Rio membawa makanan popmie di tangannya (sudah siap makan) dan saya pun ingin in menyeduh mie instant sebelum berangkat tidur. Saya kembali ke mobil untuk meminta bunda membuatkan mie, akan tetapi setelah dicari-cari barang yang dicari tidak ditemukan (amazing huhuhuhu). Bunda baru ingat kalau pop mie tersebut masih tersimpan dengan aman di atas lemari pakaian di dalam kamar dirumah saudara-saudara. Akhirnya  hanya bisa menahan hawa napsu untuk makan yang hangat di dini hari tersebut dan saya kembali kedalam mobil dan merebahkan badan di kursi depan untuk beristirahat.

Saya langsung terlelap akibat ngantuk dan terbangun saat kaca pintu mobil kami diketok oleh anggota lain yang membangunkan saya. Kami diminta untuk bersiap untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Bengkulu.

Setelah melaksanakan salat Subuh dan mencuci muka saya langsung kembali ke mobil untuk bergerak meninggalkan tempat peristirahatan. Anggota rombongan  mulai menyusun rangkaian di luar SPBU dan kemudian melanjutkan perjalanan untuk menuju titik poin terakhir untuk hari ini yaitu di kota Bengkulu.

Pelayanan dimulai dengan berjalan perlahan menyusuri garis pantai barat Sumatera di daerah Krui ini, entah mengapa jalan santai ini membuat mata saya kembali mengantuk. Saya meminta izin kepada rombongan untuk menyegarkan mata sejenak terlebih dahulu untuk melaju sedikit kencang dibandingkan rombongan dan ternyata om Fikri pun mengikuti saya dari belakang, mungkin juga ngantuk.

Ternyata kejadian yang sama juga menimpa om Rio. Di SPBU masih tertinggal om Rio yang masih tertidur di dalam mobil seperti halnya om Wike yang juga ketiduran.

Akhirnya om Rio berhasil mengejar ke tingkat tertinggalnya dari rombongan dan bergabung dengan rombongan kami, kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri pantai barat Sumatera yang berkelok-kelok.

Hari sudah beranjak terang dan pemandangan pun sudah terlihat indah melihat pantai di di pantai Barat Sumatera.

Di suatu spot kami pun berhenti di sebuah pantai yang area parkirnya terbatas, kami hanya bisa memarkirkan kendaraan di bahu jalan untuk berhenti sejenak beristirahat dan dokumentasi.
Nih viewnya featuring om Fikri fams
Kali ini saya sebenarnya membawa drone yang saya beli beberapa bulan yang lalu untuk pengambilan gambar. Berhubung pilot drone yang masih newbie, gambar yang diambil pun hanya biasa saja. Akan tetapi pemandangan di pantai Barat Sumatera sangat indah untuk dinikmati.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju kota Bengkulu. Tidak lama berkendara, kami kembali berhenti di sebuah jalan turunan yang mana tahun lalu kami juga berhenti di daerah ini. Posisi yang bagus pemandangannya  untuk mengambil foto-foto sebagai kenang-kenangan nantinya nya. Area parkirnya lumayan luas untuk berhenti dan tidak menggangu pemakai jalannya.

Sekitar 30 menit kami berhenti di sini. Daerah Krui adalah daerah yang paling indah yang menurut saya pantainya dibandingkan dengan pantai-pantai di sepanjang perjalanan lintas Barat Sumatera (yang kami lalui loh ya…..). Itulah mengapa kami sedikit terhambat perjalanan kami akibat kebutuhan dokumentasi pribadi hehehe. Namaya juga mudik jalan-jalan, ada spot bagus ya berhenti dan menikmati keindahan alam.

Kembali kami berhenti di pantai Linau untuk beristirahat dan juga untuk menunggu rekan-rekan yang lain yang tertinggal di belakang. Di jalur lintas Barat Sumatera ini jalan yang kecil dan sulit untuk mendahului. Akibatnya apabila telat mendahului, maka kita bisa tertinggal dari rekan-rekan yang lain. Padahal belum lama loh kita memulai perjalanan hahaha…...

Setelah semua anggota lengkap berkumpul kami melanjutkan perjalanan untuk menuju kota Bengkulu. Seperti sebelumnya perjalanan menuju kota Bengkulu jalannya dipenuhi oleh jalanan berkelok-kelok. Kami melewati Bintuhan dan mana.

Selepas melewati mana rasa kantuk kembali menghampiri dan saya ingin sekali cepat-cepat untuk sampai di kota Bengkulu ini merupakan normal dialami jika tidak tidur pulas semalaman. Rasa kantuknya akan terasa pada saat sore hari.

Perjalanan dari SPBU bangun negara untuk menuju ke kota Bengkulu berjarak 358 km kalau menurut Google bisa ditempuh dalam waktu 8 jam tanpa istirahat. Akan tetapi berdasarkan pengalaman, kalau konvoi dengan rekan-rekan RTS akan  membutuhkan waktu kurang lebih 10 jam untuk mencapai kota Bengkulu. Itupun sudah ditambah waktu  istirahat. Jalannya pun tidak terlalu terburu-buru akibat kondisi perjalanan. Kondisi jalan di sepanjang jalan dari Krui menuju Bengkulu bisa  dikatakan bagus tidak seperti tahun sebelumnya yang dari daerah mana sampai Bengkulu masih dalam tahap perbaikan tapi sekarang sudah selesai perbaikannya dan jalan dalam kondisi bagus akan tetapi kendaraan tidak bisa terlalu kencang akibat jalan yang berkelok-kelok.

Lintas Barat Sumatera ini tidak bisa di diperuntukan untuk pemudik yang terburu-buru untuk mencapai kampung halaman, karena memang pada lintas ini adalah lintas yang jalurnya jalur santai. Juga pemandangan yang indah sangat rugi sekali untuk melewatkannya nya.

Rombongan terpecah akibat ada beberapa rekan yang ingin cepat sampai di hotel dan juga yang ingin beristirahat. Bahkan ada juga yang mengatakan yang jalannya santai. Akhirnya diputuskan kita akan berkumpul di hotel saja nanti. Kami memberikan titik lokasi hotel kepada rekan-rekan yang jalannya santai dan kami akan menunggu mereka di hotel.

Kami sampai di kota Bengkulu pada jam 15.30. Setelah mengambil kunci diresepsionis dan langsung saja dilakukan pembagian kamar kepada rekan-rekan yang telah melakukan reservasi. Satu-persatu anggota RTS datang dan berkumpul di area check-in. Setelah membagikan kunci masing-masing kamar dan segera saja kami bergerak menuju kamar masing-masing untuk segera mandi dan beristirahat.

Posisi kamar saya berada di di sebelah kanan hotel (gedung lama). Berdasarkan harga  yang kami bayar, kami mendapatkan kamar yang lama. Saya pribadi tidak ada masalah mau kamar lama atau yang baru selama itu nyaman untuk beristirahat. Akan tetapi masalah terjadi pada pendingin kamar yang tidak berfungsi. Setelah setengah jam di hidupkan, kamar hotel masih terasa panas. Kami komplain kepada pihak hotel dan kamar kami pun diganti. Kami bisa mendapatkan kamar yang berpendingin udara yang beroperasi secara normal (walau ga normal normal banget sih hehehe).

Setelah mandi membersihkan badan, badan ini butuh istirahat yang nyaman. Saya tertidur di dalam kamar sedangkan anak-anak ingin menceburkan diri di kolam renang yang ada di belakang hotel. Sekarang tugas bunda untuk menemani mereka. Saya sendiri mah bobok cantik di kamar.
kakak lagi terbang
Sore harinya hujan deras mengguyur kota Bengkulu. Kami masih berada di dalam kamar dan hujan ini membuat saya takut kalau-kalau jalan menuju ke Sumatera Barat terputus seperti yang berita beberapa bulan yang lalu.

Setelah hujan berhenti dan waktu berbuka telah masuk, kami melaksanakan salat di dalam kamar. Setelah itu kami meninggalkan hotel untuk mencari makan malam soalnya bosen juga makan menu bawaan dari rumah. Kami berputar-putar di kota Bengkulu. Jalanan besar di Bengkulu gelap-gelap. Jadi parno sendiri. Penerangan jalannya tidak berfungsi atau memang tidak diberikan.

Kami back to basic alias makan di rumah makan Padang yang ada di kota Bengkulu. Padahal ingin mencari rumah makan yang khas di kota Bengkulu. Mungkin sebagian besar sudah tutup (self thinking). Jadilah makan makanan Padang sebagai menu makan malam. Mendekati jam 8 malam, mobilpun kembali diarahkan kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

Sebelum masuk kamar, sekembalinya dari makan malam. Saya bertemu dengan beberapa anggota RTS untuk berbincang-bincang sebelum masuk ke dalam kamar. Sekitar jam 9 malam, kami membubarkan diri dan saya kembali ke kamar. Perjalanan masih panjang.
Ibu-ibu duluan mah kalau poto-poto

Masih ibu-ibu

Gabungan nih poto-potonya
Keesokan paginya jam 7.30 kami sudah mulai berbenah. Sedangkan anak-anak tetap mencari kenikmatan untuk mandi di kolam renang. Saya bertugas  memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Rekan-rekan RTS lainnya juga telah bersiap-siap di kendaraan masing-masing. Sebelum meninggalkan kotel, tidak lupa menyempatkan diri untuk mendokumentasikan acara mudik bareng ini seperti biasa om arief bertindak sebagai fotografer dadakan. Memang seperti biasa setiap tahun beliau memang mahir mengambil gambar untuk diabadikan. Makanya didaulat sebagai fotografer abadi di RTS (hehehe…..).

Jam 8.30 malam kami bergerak menyusun rangkaian di jalanan pantai Panjang Bengkulu. Om Yandri dan om Safril telah datang ke hotel kami untuk bergabung.

Kami pun meninggalkan hotel dan menyusuri pantai barat Sumatera yang disebut pantai panjang. Sebelum meninggal kota Bengkulu, kami masih berhenti sekali lagi untuk mengambil foto-foto (ga ada bosen-bosennya).
disini nih dronenya hampir hilang hihihihi
Kami melanjutkan perjalanan setelah berfoto puas berfoto-foto ria. Oh iya….. saya pada pagi itu saya hampir kehilangan drone akibat angin kencang sekitar area kami berfoto-foto. Pada saat kami berfoto-foto saya menerbangkan drone dan saya tidak memperkirakan kalau di atas angin lebih kencang. Tapi alhamdulillah berhasil saya dapatkan kembali drone itu, setelah usaha yang begitu keras. Pengalaman bagi pilot beginner . Intinya jangan pamer kalau angina kencang hahahaha…
Indahnya rombongan konvoi

Kebelakang
Dalam perjalanan ini alat yang wajib digunakan semua peserta konvoi adalah  melengkapi kendaraannya dengan alat komunikasi antar kendaraan yaitu HT atau rig. Ini tidak lain untuk mempermudah koordinasi antar kendaraan selama di perjalanan.

Perjalanan kembali terhenti di Polsek ketahun karena ada beberapa dari rekan-rekan yang ingin mengisi bahan bakar dan juga ada yang  ingin ke kamar kecil.

Setelah berkumpul semua kami melanjutkan perjalanan menuju ke meeting point kami selanjutnya yaitu di rumah makan Begadang 1 yang berada di kota Mukomuko. Rumah makan masakan Padang ini mempunyai menu yang masuk dengan selera kami. Jadilah rumah makan ini titik perhentian kami selanjutnya.

Perjalanan 176 km ini membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk sampai ke sana. Kami sampai di rumah makan tersebut pada sekitar jam 3 sore.

Sebagian dari peserta mudik ini ada yang berpuasa dan ada juga yang tidak. Sebagian besar peserta konvoi berhenti di rumah makan ini untuk membeli makanan untuk berbuka nanti (bagi yang puasa) akan tetapi berhubung jam berbuka masih jauh. Rumah makan masih belum siap menerima kedatangan lebih dari 10 kendaraan berikut keluarga yang ada di dalamnya untuk membeli makanan. Akibatnya nasi yang tersedia di rumah makan ini habis walaupun menunya sudah sebagian besar sudah ada. Tapi sayur anyang yang sudah tersedia hamper habis diborong.

Rasa menu yang ada di rumah makan begadang ini memang membuat kami ingin datang kembali untuk menikmati makan disini kembali pada saat tahun lalu kami datang ke rumah makan ini pada jam 10 malam untuk beristirahat sejenak sekaligus untuk membeli makanan untuk makan sahur. Juga tersedia disana the telur dan kopi telur minuman idaman laki-laki hihihi…

Ada juga dari peserta konvoi masih melanjutkan perjalanan ke dikarenakan mereka tidak membeli makanan dan mereka melanjutkan perjalanan dan akan bergabung nanti di saat berbuka.

Setelah menikmati makan siang menjelang sore, perjalanan dilanjutkan untuk mengejar ketertinggalan kami dengan rekan-rekan yang lain yang telah terlebih dahulu jalan di depan. Untuk perjalanan selanjutnya kita perlu berhati-hati karena di sepanjang jalan menuju Tapan, banyak sekali sapi yang berkeliaran di pinggir, jalan jadi kita harus memperhatikan jalan dengan saksama. Kadang ada sapi yang menyeberang secara mendadak.

Setelah dari rumah makan begadang tadi suaranya adalah pemandangan indah di sepanjang pantai setelah Mukomuko ini menjelang bandara Mukomuko yaitu jalan yang lurus dan berada di pinggir pantai. kali ini kami tidak berhenti pada spot ini karena ingin mengejar cepat sampai di rumah.

Pada saat melewati perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Barat kami langsung dihadiahi jalanan yang berlubang-lubang. Jadi pada saat itulah kita tahu bahwa di situlah perbatasan antara Bengkulu dan Sumatera Barat. Memang jalan jelek tersebut tidak terlalu panjang tapi lumayan menyiksa.

Seperti perjalanan sebelum-sebelumnya jalanan di lintas Barat  ini memang berkelok-kelok tidak sama  seperti pada saat kita berada di lintas tengah antara Linggau dan muara Bungo, yang jalannya bisa dikebut tapi sekarang jalanan sudah mulai berlubang-lubang.

Kami sampai di kota Tapan pada ba'da Maghrib. Kami berhenti sejenak untuk memberikan waktu kepada rekan-rekan yang berpuasa untuk menikmati santap berbuka. Sedangkan yang tidak berpuasa tentu saja menunaikan ibadah salat Maghrib.

Setelah beristirahat dan melaksanakan ibadah salat Maghrib dan juga menikmati santap malam. Perjalanan kembali dilanjutkan. Rrencana awal adalah akan menikmati kuliner ikan bakar di daerah pantai barat. Akan tetapi om Doni memberikan ide untuk menikmati kuliner sate lokan yang berada di pesisir Selatan. Lokan adalah sejenis kerang yang banyak terdapat di muara dekat laut. Rencana ini lebih menarik bagi saya pribadi dibandingkan ikan bakar karena lokan merupakan menu idaman yang jarang ditemui. Tentu saja saya vote untuk rencana ini.. Sedangkan yang lain juga saya karena sudah makan di saat berhenti tadi. kami dipandu oleh om Doni untuk menuju ke rumah makan ini.

Sesampainya kami disini. Parkiran jualan sate ini langsung penuh. Sekitar satu jam kami menikmati menu sate di tempat ini.
Foto satenya ketemu yang lain belom

Kami meninggalkan rumah makan sate SMBS ini pada jam mendekati jam 10 malam. Kemudian om Doni pun telah pamit duluan meninggalkan kami, karena rumah beliau tidak jauh. Perjalanan masih tetap dipimpin oleh Road Captain om Jendra dan asisten om Mahfud.

Untuk mengatasi dan menghilangkan rasa kantuk. Alat komunikasi HT menjadi alat pencegah rasa kantuk. Inilah alasan mengapa kami menyediakan alat-alat komunikasi antar kendaraan, sehingga bisa menghilangkan rasa kantuk pada saat jam-jam ngantuk. Padahal jalanan berkelok-kelok dan mendaki.

Pada saat memasuki kota Painan, beberapa anggota mengisi bahan bakar terlebih dahulu. Om Wike dan om Anton yang tujuannya ke Solok,  memisahkan diri dahulu dikarenakan rasa kantuk yang dialami tidak bisa ditahan lagi. sehingga perlu beristirahat dan anggota telah berkurang dua lagi sehingga berjumlah yang tersisa hanya bisa 13 orang. di tengah perjalanan Om Yandri mengajak kami untuk menikmati kopi terlebih dahulu untuk sebelum membubarkan diri sampai di kota Padang.

Pada awalnya om Fikri menawarkan diri sebagai penunjuk jalan akan tetapi entah mengapa langsung berubah haluan, om Yandri yang memandu kami untuk menuju ke kedai kopi yang terdekat didaerah Simpang Haru. Kami sampai di kedai kopi yang berada di Padang pada jam 1 malam.
Artis dadakan RTS

Anggota bandnya

m
malah ngopi dulu bukannya langsung pulang
Peserta yang gabung untuk menikmati kopi adalah om Safril, om Arif, om Jendral, om Febi,  saya, om Helmi dan om Fendi. Menikmati kopi yang tersedia di kodai tersebut sambil nikmati iringan musik. Sedangkan om Mahfud, om Abi, om Isra, om Hendroz dan om Rio langsung memisahkan diri untuk menuju rumah masing-masing.

Sambil menunggu saya memesan 2 bungkus mie aceh untuk sebagai bekal kami sahur nanti, sedangkan om Fendi ini terus asyik bernyanyi diiringi musik live.

Setelah selesai ngupi-ngupi Saya, om Helmi, om Fendi dan om Jandra izin pamit untuk berangkat ke ke kampung halaman kami di kota Bukittinggi karena perjalanan masih sekitar 2 jam lagi.

Perjalanan menuju kota Bukittinggi memang tidak sampai 2 jam, karena lalu lintas yang masih sepi dan bisa memacu kendaraan. Pada jam 4 pagi saya dan keluarga sampai dengan selamat di rumah kami di Bukittinggi.

Akhir kata terima kasih buat rekan-rekan RTS akan perjalanan yang menyenangkan, semoga kita bisa mengulanginya lagi di lain waktu. Perjalanan mudik adalah perjalanan yang kami sekeluarga menunggu-nunggu setiap tahun semoga tahun depan bisa terulang kembali insya Allah.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Kabita lintas barat euyyy !! mudah mudahan kesampaian bareng lintas barat !! sayang tahun ini dilarang mudik sama istri nih!! om Sony bagaimana kabarnya nih kapan kopdar lagi!! tahun kemarin macet total nih TMII terkurung didalam!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah milih tanggal kita om. namanya juga milik rame-rame kadang rame kadang sepi... Nikmati aja mah kita om. Jalur tengah timur barat... yang penting mudik.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah ternyata blog ini msh aktif, sayang taun ini tanpa mudik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha..... entah kenapa malesnya ga ketulungan......

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Like us on Facebook

Flickr Images