Rabu, 20 Juli 2016

Mudik Bareng KASKUS Road to Sumatera Jilid 2 (Mudik ke Bukittinggi 2016) via Jalur Lintas Tengah


Hari yang kami sekeluarga nanti-nantikan selama beberapa bulan belakangan ini telah tiba. Hari dimana kami akan mudik bersama ke kampung halaman kami di Sumatera Barat setelah selama setahun merantau dinegeri orang. Perbedaan tujuan akhir tidak menyurutkan kami untuk bersama-sama menuju kampung halaman. Pagaralam, Dhamasraya, Kerinci, Curup, Padang, Bukittinggi, Batu sangkar, Payakumbuh, Bangka, Bangkinang, Medan, Pariaman, Solok, Baturaja, Jambi, Kisaran adalah tujuan dari peserta mudik kali ini. mengenai pembetukan grup mudik "KASKUS Road to Sumatera Jilid II" telah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya. Clik here (KASKUS Road to Sumatera Jilid II)

Kali ini saya mendapatkan grup dengan anggota om Heri, om Panca dan Herlan.  Herlan rekan saya di S3rious dan juga di ERCI walau beda Chapter. Sebelum keberangkatan kami sepakat kalau akan menggunakan HT nantinya selama perjalanan. Tujuan untuk mempermudah kami dalam berkomunikasi selama diperjalanan. Kami menetapkan frequensi yang akan digunakan selama perjalanan dan menentukan juga frequensi cadangan seandainya berbenturan dengan pengguna lain.

Barang-barang yang akan kami bawa pada saat mudik telah dipersiapkan bunda dan telah di packing dengan rapi jauh sebelum hari keberangkatan. Jadi saya hanya tinggal memasukkan barang tersebut kedalam kabin mobil dan juga kedalam roofbox.  Pemasangan Roofbox telah selesai dilakukan seminggu sebelum keberangkatan dan tentu  saja dibantu oleh asisten saya yang paling cantik dan setia yaitu istri saya hehehehe. Akan tetapi pada beberapa hari sebelum keberangkatan saya mendapatkan kabar kalau didaerah 4 lawang(Sumatera Selatan). Bagi yang memakai roof rack kena razia. Saya sendiri sedikit terkejut mengenai hal ini. Apa yang harus saya lakukan? Tetap memakai roofbox atau melepasnya. Kalau saya melepasnya tentu saja barang akan semakin pada didalam kabin. Mudik kali ini formasi mudik kami sekeluarga adalah 4 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. Jadi lumayan padat didalam kendaraan, jika ditambah lagi barang maka pasti akan bersempit-sempitan. Kalau tetap mamakai tetap memakai roofbox maka kemungkinan akan terkena razia nantinya. Saya akhirnya memilih opsi tetap memakai roofbox dikarenakan kami ingin mudik kami nyaman.
Jarak yang mesti kami tempuh by G-map 1356km
Tanggal 1 Juli 2016 ba’da Shubuh, saya mulai memasukkan barang-barang kami kedalam mobil dan juga kedalam roof box dibantu oleh bunda. Bunda telah selesai memasak menu yang akan kami bawa nantinya pada saat perjalanan.  Adapun menu kami kali ini sedikit elit dan lengkap yaitu dendeng lado mudo, ayam goreng bumbu, telor rebus bulat dan teri kacang balado merah plus sayur mentimun. Barang telah tersusun rapi didalam box yaitu barang yang tidak akan dibongkar selama diperjalanan.  Sedangkan barang yang ada di dalam kabin adalah barang yang akan dipergunakan selama perjalanan, yaitu makanan kecil, menu makan, alat sholat dan air minum.

Selesai memasukkan barang kedalam mobil, saya mengantarkan bunda menuju stasiun kereta terdekat dengan rumah kami pada jam 6.30 pagi. Hari itu bunda masih masuk kerja. Padahal sudah saya minta bolos saja, tapi karena tanggung jawabnya tinggi tetap masuk kerja. Sekembalinya saya dari mengantar bunda saya langsung melanjutkan tidur, karena nantinya saya akan tidak tidur selama 24 jam.  Menjelang jam 11 siang saya bangun dan bergerak mandi dan setelah itu mengambil obat asma bunda ke apotik dan kemudian berangkat menuju masjid untuk melaksanakan sholat Jumat.
Selepas Jumat saya kemudian melanjutkan berbenah karena rencananya kami akan berangkat dari rumah sekitar jam 13.30 menuju area pick up bunda dan meeting point dengan Herlan yaitu Jl. Jend. A. Yani dekat SPBU swasta yang bergambar kerang. Uncu yang kali ini ikut juga sudah hadir dirumah. Dia minta ijin kerja setengah hari saja.

Menunggu bunda di bypass
Kami sampai disana sekitar 40 menit kemudian dan langsung menginformasikan kepada bunda kalau kami sudah sampai. Akan tetapi bunda masih ada kerjaan, dan sama seperti tahun yang lalu. Hampir dua jam kami menunggu disana. Alhamdulillah bunda bersamaan datangnya dengan om Herlan.
Kami berdua langsung tancap gas menuju Tikum 1 yaitu Rest Area KM 43. Tol Jakarta Merak, melalui Tol Pluit tembus ke tol Karang tengah. Kondisi jalanan yang cenderung ramai lancar, Gerbang tol adalah yang rata-rata penyumbang kemacetan jalan. Jam 5 sore kami berdua sampai di tujuan pertama kami.
Kondisi Tol Jakarta Merak

Supir Lintas Sumatera

Kondisi didalam mobil
Saya langsung memarkirkan kedaraan dan bergegas menuju konter penjualan tiket kapal ferri yang berada di area rest area tersebut. Untuk melakukan pembelian tiket feri tersebut. Pembeli diminta menyiapkan STNK dan KTP. Kemudian akan diberikan formulir pembelian tiket yang nanti akan diisi dengan nama penumpang yang ada di mobil berikut jenis kelamin dan umur. 

Selesai mengisi formulir tersebut kemudian kita menuju meja pertama kita meminta formulir yang kemudian untuk meminta nomor antrian. Sekarang sembari menunggu nomor kita dipanggil kita dapat melihat dua layar besar yang tersedia. Disini juga terdapat layar yang memberikan kita informasi  mengenai dimana kita nantinya masuk kedalam pelabuhan Merak. Posisinya sendiri berada paling kiri pintu masuk. Sedangkan layar yang lain terdapat CCTV yang memantau kondisi Merak terkini. Saat saya melihat kondisi Merak saat itu masih dalam keadaan kosong baik itu digerbang masuk maupun di dermaga.

Saat itu om Heri anggota team saya telah dahulu meluncur meuju Merak. Hari sudah menjelang berbuka puasa. Saya agak ragu menunggu berbuka dahulu atau lanjut saja. Saya masih menyempatkan membagikan kaos yang saya dapat dari KASKUS ke om Ardian, om Panca, om Fendy, om Herlan dan anggota mudik yang berada di rest area tersebut. Akhirnya saya memutuskan kalau saya ingin mengejar kapal saja ke Perlabuhan Merak. Soalnya semua anggota saya telah lengkap dan saya tidak ingin  nantinya macet dijalan atau antri masuk kedalam pelabuhan.

Beberapa menit sebelum adzan magrib, saya dan om Fendy keluar dari area rest area tersebut dan langsung tancap gas menuju Pelabuhan Merak. Saat melewati gerbang to Merak masih sangat lancar sekali. Antrian mobil hanya ada beberapa mobil membayar tiket tol. Satu jam kemudian kami sampai di pintu Gerbang Pelabuhan Merak. Kami disambut oleh sedikit macet menjelang masuk kedalam pelabuhan. Penyebabnya kemungkinan akibat jeleknya jalan masuk menuju Pelabuhan.
Kondisi macet saat akan masuk Gerbang Merak
Pintu Khusus buat kendaraan pribadi yang membeli tiket di rest Area
Selepas masuk kedalam Gerbang Utama Pelabuhan Merak, kondisi loket penjualan tiket masih sepi dan pintu masuk pembelian untuk kendaraan yang langsung di Pelabuhan dan yang telah beli di rest area dipisah. Kami langsung mengambil jalur paling kiri dam masuk kedalam pelabuhan menuju loket penukaran tiket kapal. Kemudian pada loket saya memberikan bukti pembayaran yang telah diterima tadi dengan tiket untuk naik kapal. Proses penukaran tiket berlangsung kurang dari 1 menit dan tersedia 3 loket penukaran (kalau tidak salah)

Didalam pelabuhan kami langsung diarahkan oleh petugas ke dermaga 2. Ternyata om Heri telah antri paling depan. Saat itu kapal masih bongkar muat. Hanya sekitar 15 menit mobil mulai dimasukkan satu-persatu kedalam kapal. Dan sekitar jam 19 malam kapal kami berangkat meninggalkan Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni.
Saat akan naik ke atas kapal
Kapal mulai penuh dengan mobil pemudik
Posisi mobil kami yang sangat strategis
Kendaraan kami dapat posisi dilantai atas kapal dan sangat strategis sekali. Dibagian depan kapal dan samping kiri pagar kapal. Jadi Nabil dan kakak dapat leluasa menikmati suasana di kapal. Kapal yang kami naiki ini tergolong sangat bersih sekali selama saya naik ferri. Geladaknya tidak terdapat sampah dan catnya masih baru. Musholla full ac dan kamar mandinya sangat bersih. Sayang sekali saya tidak melihat nama kapal ini.
Pelabuhan Merak dari atas Kapal

Ramainya pemudik yang ada diatas kapal
Selama diatas kapal saya langsung turun dan bertemu dengan Herlan. Kami langsung menuju ke lantai atas untuk menikmati malam diatas kapal. Setelah puas menikmati angin malam kami bergerak turun, karena saya belum makan malam dan sholat tarawih. Saya melaksanakan sholat Magrib dan dijamak dengan Isya dan kemudian melakukan sholat Tarawih di Musholla yang nyaman. Saya kembali ke mobil setelah melaksanakan kewajiban dan kemudian makan dan dilanjutkan istirahat untuk perjalanan panjang. Seperti biasa mata ini tidak bisa dipejamkan walau untuk sekejap.

Jam 21.30 kami mulai merapat di Bakau Heni…. Wooowwwwcepat sekali iini kapal. Pasti pakai NOS ini kapal hehehe. Satu persatu mobil turun dari kapal tentu saja kendaraan di geladak bawahlah yang pertama keluar. Kemudian diikuti oleh kendaraan yang berada diatas. Kami satu grup melakukan re-group di luar pelabuhan Bakauheni.Sebelum SPBU pertama.

Setelah re-group kami melanjutkan perjalanan secara beriringan saya di letakkan sebagai RC (waduh salah ni)…. Seperti tahun lalu. Kalau saya di posisi ini saya cenderung suka injek gas terus dan kadang lupa temen. Beberapa kali rekan konvoi saya tertinggal dibelakang karena saya terlalu cepat overtaking.

Akhirnya sampai suatu saat saya benar-benar tidak bisa berkomunikasi lagi dengan mereka. Akhirnya sebelum masuk kota Bandar lampung jam 23.30, saya berhenti di RM Begadang V untuk istirahat sejenak dan menungu rekan saya. Lebih dari 15 menit saya menunggu mereka tidak muncul, saya memutuskan untuk melanjutkan ke Tikum 2 yaitu RM taruko Jaya II. Sekalian saya bisa istirahat disini sambil menungu mereka.

Kondisi lalu lintas yang sudah sepi meningkatkan adrenalin sembalap saya. Sebagian besar pengguna jalan saat itu adalah pemudik yang menuju kampung halaman di Sumatera. Jalanan di Lampung bisa dikatakan bagus walau ada beberapa bagian yang bergelombang. Jalanan yang cukup lebar dan banyak lurusnya mempermudah saya dalam melewati kendaraan pemudik yang lain.

Pada jam 01.10 saya sendiri sampai di Tikum II yaitu RM taruko Jaya II. Kondisi Rumah makan saat itu dipenuhi oleh para pemudik dan parkirannya juga sudah sangat penuh sekali. Tidak lama saya istirahat saya bertemu dengan anggota Mudik bareng saya yang lain yaitu nte Lily dan keluarga, yang juga istirahat disana. Kami berdua dan keluarga menunggu rekan yang lain dibelakang. Saya menelpon Herlan untuk menginformasikan kalau saya sudah sampai. Tidak lama kemudian 3 anggota saya yang lain menyampaikan kalau mereka tidak berhenti di Taruko II karena tidak melihat RM tersebut. Mereka berhenti di RM Taruko I yang berada di 5 km di depan. Saya dan nte Lily langsung menyusul ke tempat yang dimaksud.

Tidak beberapa lama saya sampai di RM Taruko I dan bertemu dengan anggota grup yang lain. Kondisi RM tersebut juga dipenuhi oleh para pemudik yang beristirahat. Saya cukup kesulitan menemukan spot parkir. Kami tidak lama disana, karena semua ingin melanjutkan perjalanan lagi.

Jam 02.44 kami melanjutkan perjalanan menuju Baturaja. Jalanan masih dalam kondisi bagus dan berkelok. Jalanan yang sepi membuat saya memacu kendaraan. Kembali 3 anggota grup saya tertinggal dibelakang. Tetapi mobil nte Liliy tetep setia mengikuti dari belakang. Kami berdua menyusuri jalanan Sumatera didaerah lampung. Saya mengisi Bensin pertama kali di daerah sumatera didaerah way kanan. Memang di Jalur tengah lintas Sumatera ini SPBU sangat banyak sekali tersedia mulai dari yang dimiliki Pemeritah (Kuda Laut) dan Swasta (AKR), Karena belum masuk waktu subuh saya kembali melanjut perjalanan.  Sekitar jam 5 pagi kami berhenti disebuah SPBU didaerah Martapura. Tetapi kondisi air disana sangat menyedihkan untuk buang air kecil saja harus menampung air dahulu, apalagi untuk berwuduk. Air yang kecil tidak menghalangi saya mengambil wudhu dan kemudian melanjut melaksanakan sholat shubuh.

Selesai sholat Shubuh, mata ini sangat berat sekali mau tidak mau saya harus istirahat dahulu alias tidur. Nte lily tetap melanjutkan perjalanan karena dia mempunyai supir cadangan. Sedangkan saya tertidur selama 30 menit.  Dan ternyata 3 rekan grup saya yang lain juga tidur di SPBU yang lain.
Foto Mobil Parkir di SPBU
Ngantuk tidur dulu di SPBU Way Kanan
Bangun tidur membuat badan menjadi fit dan segar, kembali saya menjajal jalanan Sumatera menuju kota Baturaja. Jam 07.04 pagi hari saya sampai di kota Baturaja dan kemudian saya memutuskan menunggu rekan saya yang lain. Sembari menunggu mereka didepan Gelanggang Olah Raga Baturaja. Kami menikmati sarapan pagi (dikarekan kami tidak puasa). Kami selesai menyantap sarapan pagi dan tidak lama rekan saya datang menghampiri saya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Muara Enim. Ternyata om Heri minta kami berhenti sejenak untuk mencari sarapan dan juga mengisi Bensin. Ada 30 menit kami berhenti di Baturaja. Om Heri membeli soto dan ternyata Nabil juga dibelikan Nasi goreng oleh Bunda untuk sarapan.
Menunggu rekan yang lain
Kami melanjut perjalanan menuju Muara Enim dengan dipimpin oleh Herlan. Saya tidak mau kembali meninggalkan mereka. Kondisi jalan menuju Muara Enim sebagian besar bagus dan hanya ada beberapa titik yang masih hancur. Kondisi hancurnya jalan sebagian besar berada diluar pemukiman berbeda dengan tahun yang lalu saya lewati
Jalan yang masih tetap jelek (walau tidak terlalu parah)

Sekarang ada fenomena baru di jalur tengah wilayah Sumatera Selatan adalah bayaknya badan jalan yang longsor.  Bahkan ada juga Jembatan  yang setengahnya bolong dan harus jalan bergantian. Saya menghitung lebih dari 4 jalan longsor yang kondisinya beragam. Ada yang masih dalam perbaikan bahkan ada yang Cuma diberi pagar pembatas garis Polisi saja dan dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk meminta sumbangan.
Badan jalan longsor 1 (Baturaja - Lahat)

Badan jalan longsor 2 (Baturaja - Lahat)

Badan jalan longsor 3 (Baturaja - Lahat)

Badan jalan longsor 4 (Baturaja - Lahat)

Bergantrian posisi urutan kendaraan kami. Kadang Herlan didepan saya kadang, om Panca dan kadang om Heri. Terkadang kami menunggu om Panca dan om Heri yang tertinggal dibelakang. Menjelang memasuki wilayah Lahat ditandai dengan terlihatnya Gunung Jempol. Kami terpisah menjadi dua group. Om heri dan saya berada didepan, sedangkan om Panca dan Herlan berada dibelakang.

Gunung Jempol Lahat
Tikum kami di RM Telaga Biru

Foto dulu ah walau panas-panasan
Pada jam 12.40 kami sampai di Tikum kami yaitu di RM Telaga Biru. Saya dan om Heri masuk kedalam untuk beristirahat sembari menunggu om Panca dan Herlan. Satu jam kami berada disana untuk istirahat, sholat dan makan siang (sekali lagi tidak berpuasa hehehehe). Om heri terus menghubungi Herlan dan om Panca di Grup WA akan tetapi no respond. Ternyata mereka melewati Tikum tersebut dan lanjut menuju ke Linggau.

Setelah ishoma kemudian kami melanjutkan perjalanan, akan tetapi tidak berapa lama kami mendapatkan antrian . untuk melewati badan jembatan yang longsor. Saling berganti kami melewati jembatan tersebut. Walau pendek antrian tersebut lumayan menyita waktu. Kali ini tidak ada pungutan karena yang melakukan pengaturan adalah Polisi.

Polisi yang mengatur buka tutup jalan
Perjalanan menuju ke Linggau diawali jalan yang berkelok-kelok. Posisi saya didepan om Heri. Sekali lagi saya salah posisi. Kembali kesalahan yang sama terulang. Om Heri tertinggal oleh saya ntah dimana. Saya menambah kecepatan karena rasa kantuk yang bertambah. Saya ingin cepat sampai di hotel dan istirahat. Dibelakang saya om Heri sudah tidak terlihat lagi.

Mendekati Lubuk linggau Jalan sudah lebih besar, akan tetapi sedikit sulit melewati kendaraan didepan karena sering adanya belokan. Sewaktu saya akan melewati kendaraan didepan ternyata pas juga jalan jelek pada kecepatan kencang saya menghantam jalan bergelombang dan akibatnya speaker serta sub saya mati. Suara music hanya terdengar dari speaker kursi penumpang. Wah…. Apalagi kerusakannya ini?. Kerusakan ini tidak diketahui sumbernya sampai kami di bukittingi.

Tepat jam 17.30 kami telah sampai di Lubuk linggau dan kami sekeleluarga melewati pempek idaman bunda yaitu Pempek Familidin. Ternyata toko itu buka. “Kita mandi dulu baru habis itu kita kesana” kata bunda. Tidak berapa lama kami kami sampai di  Hotel Abadi hotel langganan kami. Di group Whatsapp ternyata nte lily sudah duluan singgah ke Pempek Familidin. Ternyata om Panca sudah duluan sampai di hotel. Dua puluh menit kemudian om Heri pun sampai ditempat yang sama. Herlan terus meneruskan perjalan menuju Padang dikarenakan mempunyai supir cadangan. Sedangkan saya yang single driver sudah melemparkan bendera putih alias kecapean hehehe.
Ternyata om Panca sudah duluan sampai
Bunda yang melakukan proses check in. Kami memilih kamar dengan harga Rp. 485rb/ malam, karena akan diisi oleh 6 orang manusia didalamnya. Selesai check in kami semua masuk kekamar untuk mandi dan istirahat.

Pada jam 19.30 saya dan bunda keluar dari hotel menuju toko pempek Familidin. Sedangkan anak kami masih senang tinggal dikamar hotel. Sesampai kami di lokasi toko, kembali bunda kurang beruntung ternyata toko tersebut sudah tutup. Terpaksa kami mencari pempek disekitar lokasi jalan raya yang bisa kami temui. Kembali kami menikmati pempek Owen yang rasanya masih standar saja. Bahkan untuk model mereka bukannya memasukkan model yang benar akan tetapi menjadikan pempek kapal selam menjadi bahan model… Pertama kali menemukan hal yang seperti ini. Kami juga bertemu dengan om Heri yang membeli sate kambing disebelah warung pempek kami. Setelah selesai saya meminta menunggu sebentar, soalnya akan datang rekan S3rious asal Linggau. Cukup lama saya menunggu apakah ada kepastian dia mau datang atau tidak. Akhirnya saya putuskan kalau kami balik ke hotel

Model jadi-jadian 

Pempek Murah meriah ala kadarnya

Tekwan tapi masih enak yang di Baturaja
Sesampai di hotel, rasa kantuk hebat menghampiri saya. Tidak mampu lagi dibendung. Langsung saya menuju kamar dan langsung tidak sadarkan diri sampai jam 3 pagi. Saya bangun dan kemudian melaksanakan kewajiban saya sebagai umat islam. Badan saya saat itu masih pegal sekali. Setelah itu saya kembali melanjutkan tidur.

Paginya  setelah sholat shubuh. Saya meminta anggota keluarga mulai mandi karena kita akan berangkat jam 7 pagi. Sedangkan nte lily akan berangkat jam 9 pagi karena mesti menunggu Pempek pesanan dari Familidin (iri banget deh kita). Sedangkan om Panca menginformasi kalau dia akan jalan duluan.

Setelah proses check out selesai, saya dan om Heri (berikut keluarga) melakukan forto bersama yang belum pernah kami lakukan selama ini.

Foto bareng dengan om Heri dan keluarga
 Kami melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman masing-masing. Om heri sudah dekat sekali dengan kampungnya sedangkan saya masih 12 jam lagi. Jam 07.18 kami meninggalkan Hotel Abadi Lubuk Linggau dengan formasi saya didepan dan om Heri dibelakang saya. Kejadian yang sama kembali terulang kembali. Om Heri kembali tertinggal dibelakang saya (maafkan saya ya om)….

Jalan keluar kota Lubuk Linggau

Perbatasan Jambi-Sumbar




























Dua jam kemudian kami sampai di Sorolangun. Jalanan yang lurus  dan lebar mempercepat sampainya kami di kota-kota selanjutnya. Pada jam 10.15 sudah masuk ke kota Bangko. Perjalanan kami masih diteruskan menuju kampung kami. Muara Bungo kami lewati jam 11.00 pagi.

Menjelang Tikum terakhir kami. Saya melihat mobil om Panca sedang parkir di sebuah Mesjid. Saya berpikir kenapa tidak di RM Umega saja. Ternyata alasanya dia mencegah anaknya batal puasa. Saya masuk kedalam area parker RM Umega jam 13.00 dan ternyata om Werry sudah menunggu lama disini. Padahal dia dibelakang kami sewaktu diMerak. om Werry jalan terus tanpa menginap seperti saya. Sebelum berangkat melanjutkan perjalanan om Werry singgah di tempat parkir saya untuk foto bareng dengan saya.


Spot parkir kami di Gunung Medan
Foto dengan om Werry plus baju kebanggan hahahaha
Satu jam kami menghabiskan di Rumah makan Favorit kami. Pada jam 14.17 kami melanjutkan perjalanan menuju Bukittingi.Saya sudah tidak bertemu dengan om Heri lagi. Perjalanan sangat mengasikan. Jalanan yang 90% mulus dan 10% agak jelek membuat saya menikmati perjalanan saya. Seringkali saya meleati kendaraan pemudik lain yang berjalan santai.

Tujuan kami berikutnya ada Sijunjung – Batusangkar – Baso – Bukttingi. Kami sampai di belokan Sijunjung jam 16.50 dan langsung saya mengambil belok kanan. Perbaikan jalan menyambut kedatantangan kami. Jalan masih dalam proses pengaspalan ulang.
Pengaspalan ulang jalan 

Menjelang Batusangkar jalan masih lancar walau jalanan sedikit sempit dan kadang truk besar melewati jalan ini. Yang memperlambat kami adalah lambat truk didepan kami. Bersusah payah kami melewati truk tersebut. Selepas melewati truk jalan lebih lancar dan sepi.
Kondisi jalan yang bagus (Sijunjung - Sangkar)
Pemandangan yang terlihat (Sijunjung - Sangkar)

Istana Pagaruyung dari luar saja
Kami menyempatkan berhenti di Pagaruyung tapi tidak turun karena harus mngejar pulang kerumah. Setelah foto sejenak dari dalam mobil kami melanjutkan perjalanan menuju Baso. Selepas dari kota Batusangkar, kendaraan kami seringkali terhambat oleh banyaknya pasar pabukoan yang ada dispepanjang jalan.
Kondisi jalan Batusangkar-Baso yang mulus

Walau jalan kecil tapi mulus

Simpang Baso menuju Bukitting saat akan berbuka puasa
Setelah itu jalan yang berkelok dan mulus kami lewati. Walau sedikit kecil akan tetapi cukup menguji kemampuan mengemudi. Menjelang magrib kami keluar dai Simpang Baso. Tidak beberapa lama kemudian azan magrib pun terdengar. Kami terus bergerak menuju rumah dan disimpang limau saya melihat mobil om Panca dari arah yang berlawanan, sepertinya dia tidak melihat mobil kami.

Kami sampai dirumah jam 19.00. Alhamdulillah perjalan mudik “KASKUS Road 2 Sumatera” kali ini berjalan mulus. Kecuali om Fendy anggota mudikers yang lain sampai dengan selamat dirumah. Om Fendy akhirnya juga sampai di kampung setelah diganti mobilnya di Bakauheni.

Semoga Allah bisa mempertemukan kami kembali di Mudik bareng berikutnya…

Catatan Tambahan:
KM Berangkat : 39239
KM Sampai Bukittingi : 40660
Jarak perjalanan Bekasi-Bukittingi : 1421
Total Bahan Bakar ; Rp. 620.000,- (78,4 liter)
Jenis Bahan Bakar : Pertamax (mumpung harga turun)
Konsumsi Bahan Bakar : 1 liter ; 17,2 km (metoda pengukuruan full to full dari KM 43 rest area).

  

26 komentar:

  1. cerita mudik yang sama dari tahun ketahun yang selalu mengasyikan dan tidak pernah bosan untuk kembali membancanya!!! siiip om Sony teruskan membuat ceritanya!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar om Yoyo. Walaupun cerita hampir sama tapi pasti ada yang beda dan ada tambahan cerita baru. Yang paling terpentig sudah tidak tahan untuk kembali menjajal tanah Sumatera lagi. Kangen untuk Mudik lagi. Padahal belum sebulan balik ke tanah rantau. Seperti kata om Yoyo, tidak pernah bosan..... Dijamin para anggota kita yang lain juga kepngin jalan darat lagi.

      Hapus
  2. Om lebaran haji ini ada rencana ke bukit lagi ga? Klo mau gabung KRS gimana caranya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah om baru juga balik dari Bukittingi. Insya Allah, Idul Fitri Tahun depan kita semua bakalan mudik. Cutinya belum unlimited om. Emang mau mudik juga tahun depan? Kita biasanya ngobrol di Whatsapp om. Tapi paling rame sih emang saat sebulan sebelum puasa sampai sebulan udah puasa.

      Hapus
  3. Om Sony kalau baca blog om Sony terus terang semakin menggoda untuk dibaca juga ngangenin untuk kembali mengarungi jalur lintas tengah yang sangat menantang!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, senang mendengarnya om Yoyo. Saya saja tidak sabaran lagi mau menjajal aspal Sumatera. Sampai tiap hari saya ajak anak saya meeting buat pulang kampung padahal mudiknya masih jauh sekali. Tahun depan mudik lagi kan om Yoyo? Barengan ya kita biar sesama Ertiga.

      Hapus
  4. lebaran ini mungkin saya nggak mudik om Sony!!! Insya Allah tahun depan lah kalau ada umur!! maklum cutinya giliran!! tapi nanti saya tunggu cerita om Sony tentang perjalanan mudiknya pasti sangat seru!! ok om Sony terima kasih!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yahhh berkurang lagi anggota mudik kita. Mudiknya pada gantian hehehe.....Insya Allah om ane buat cerita. Padahal saya pikir om Yoyo mudik juga...

      Hapus
    2. Uda Sony, senang baca cerita mudiknya uda sony, sepertinya asik bingits hehe...Da Son (sok akrab..hehe) kira-kira lebaran 2017 mudiknya tanggal berapa ya, pengen mudik bareng euy...

      Hapus
    3. Uda unknown. Bener banget om asyik banget. Insya Allah mudik tahun ini tanggal 16an. Tapi mumgkin grup kami yang lain berangkat pasti ada yang beda. Kalau mau gabung ayo aja om. Silahkan wa saya di 08128102524. Kalau ga bareng saya masih bisa barengan yang lain.

      Hapus
  5. hop...kok unknow ya...hehe

    BalasHapus
  6. jadi pengen konvoi bareng untuk mudik 2017 sebelumnya selalu jalan sendiri saja mudik ke padang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita disini konvoi ya mencari temen seperjalanan aja om. Soalnya susah menyakan keberangkatan tiap anggota keluarga. Tapi ada juga yang bisa sama tanggal berangkatnya. Jadi disini ada yang mengalah demi mengatur keberangkatan bersama.
      Saya juga awalnya mudik sendiri juga di 2013. Baru ketemu teman seperjalanan di 2014 itupun ketemu dikapal. Baru di 2015 dan 2016 mulai jalan bersama.
      Kalau mau mudik lagi silahkan gabung ama kita om, barangkali aja bisa ketemu barengannya. Rata-rata sih kita mudik ke Sumatera Barat atau Utara tapi sebagian besar ke Sumatera Barat. Sebagian besar lewat Lintas Tengah walau juga ada melewati jalur Lintas Timur

      Hapus
  7. sejak 2010 istri tidak mau lagi lewat timur karena hampir kena begal di daerah Kyai Agung waktu pulang ke Padang liburan tahun baru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Daerah Kayu Agung atau Kyai Agung? Solanya saya tahunya cuma Kayu Agung. Bukannya itu daerah masih dekat dengan Palembang? Saya pernah punya pengaman, demi menghindari macetnya jalur utama akibat truk batubara, saya melewati jalur alternatif yang rutenya bikin deg degan. Mana mobil habis tabrakan lagi di Palembang dan lampu cuma hidup satu. Serem banget takut dibegal. Jalurnya rimba gitu deh, yang sepiii sekali.
      Tapi kronologisnya gimana tuh om Bayu ceritanya?

      Hapus
  8. Selamat siang om Sony. Saya Sulhan boleh gabung mudik tahun ini sy mudiknya ke sumatera utara biasanya sy jalan sendiri aja kepengin juga jalan konvoi. Terima kasih 081289478573

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap om Sulhan.... selamat bergabung, semoga betah ya.

      Hapus
    2. Assalamualikum om sony..perkenalkan nama saya Arief..setelah bbrpa kali saya baca pengalaman om sony dan tmn2 semua..saya jg pgn ikut bergabung ikut konvoi bareng mudik ke sumatra khususnya ke Medan..bila om dan tmn2 berkenan..saya akan senang sekali..krn ini pengalaman pertama saya nyetir sendiri dan bawa kelrga..dan ini no.telp saya 081282000209,thx

      Hapus
    3. Ok om Arief nanti saya masukin grup. Atau sapa saya di 08128102524

      Hapus
    4. Assalamualikum om sony..perkenalkan nama saya Arief..setelah bbrpa kali saya baca pengalaman om sony dan tmn2 semua..saya jg pgn ikut bergabung ikut konvoi bareng mudik ke sumatra khususnya ke Medan..bila om dan tmn2 berkenan..saya akan senang sekali..krn ini pengalaman pertama saya nyetir sendiri dan bawa kelrga..dan ini no.telp saya 081282000209,thx

      Hapus
    5. Assalamualaikum om sony..saya indra saya senang sekali membaca perjalanan mudik bareng dari om sony...kalo boleh saya ikut gabung untuk konvoi bareng tahun ini...apakah masih bisa? Dan berangkat tgl berapa?

      Hapus
    6. Ih.... banyak komen yang kelewat nih...

      Hapus
  9. Assalamu'alaikum !! om Sony Kapan kopdar lagi nich! sudah kangen ketemuan dgn para petualang lintas sumatera!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah kita adain lagi bulan April saja om Yoyo. Udah kangen ama asinan Bogor.

      Hapus